Seorang siswa sedang diperiksa petugas sekolah di SDN 001 Tebing yang menerapkan protokol kesehataan saat masuk pertama sekolah tatap muka, belum lama ini. (msarih)

Lendoot.com – Yang dikhawatirkan banyak orang terkait penutupan sekolah selama pandemi Covid-19, yang lebih dari satu tahun ini, membuat generasi Indonesia di masa depan mengkhawatirkan, sepertinya akan terjadi.

Media asing mulai menyoroti kondisi demografi Indonesia seperti dikutip MEDIAKEPRI.co dari PikiranRakyat Pangandaran.com dari Reuters, bahwa demografi Indonesia terancam oleh penutupan sekolah Covid 19 yang berkepanjangan.

Jumat (24/9/2021), sebuah laporan dirilis Bank Dunia soal pandemi, laporan itu menyebut lebih dari 80% anak berusia di bawah 15 tahun dengan tingkat kemampuan membaca minimum yang diidentifikasi oleh organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Para ahli juga mengatakan bahwa goncangan ekonomi akibat pandemi dan penutupan sekolah selama lebih dari satu tahun ini, telah menjadi pukulan telak bagi 68 juta siswa yang ada di Indonesia.

Hal itu juga mengancam rencana Presiden Joko Widodo untuk menciptakan ekonomi global pada tahun 2045 yang didorong oleh tenaga kerja terampil.

Baca Juga! Tren Positif Covid Menurun, Pemkab Karimun Tinjau Kembali Aturan Pembatasan

Menurut seorang spesialis pendidikan di Bank Dunia, Noah Yarrow, Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran yang cukup besar sebelum masa pandemi, dan setelah pandemi, krisis pembelajaran di Indonesia menjadi jauh lebih buruk dan mengkhawatirkan.

Kata Bank Dunia, sebelum masa pandemi, meskipun sekolah selama lebih dari 12 tahun, rata-rata siswa di Indonesia memiliki pembelajaran efektif hanya 7,8 tahun.

Efektivitas itu menurun menjadi 6,9 tahun pada Juli 2021.

Turunnya kualitas pembelajaran selama masa pandemi ini merugikan siswa setidaknya $253 miliar (sekira Rp3.608 triliun) dalam pendapatan seumur hidup.

Baca juga! Viral, Anggota DPRD Karimun Ketangkap Kamera Asyik Main Game Higgs Domino saat Rapat Bahas APBD-P 2021

ementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia juga mengakui penutupan sekolah memiliki dampak yang besar pada hasil belajar anak-anak.

Sekolah-sekolah di Indonesia ditutup selama 55 minggu hingga 4 Agustus, dibandingkan dengan 25 minggu di Vietnam, 37 minggu di Jepang, dan 57 minggu di Filipina, menurut data Bank Dunia.

Banyak sekolah tetap tutup di Indonesia, dan sisanya buka dengan jam terbatas.

Baca juga! WASPADAI Gejala-gejala ini! Diabetes Sedang Mengancam Anda

Dengan ditutupnya sekolah, Indonesia sempat mengembangkan kurikulum darurat yang disederhanakan dan juga pembelajaran secara online.

Namun, laporan dari Bank Dunia mendatapi rata-rata siswa hanya belajar selama 2,2 hingga 2,7 jam per hari.

Kurang dari setengah siswa melakukan pembelajaran online, meskipun lebih dari 90% menerima tugas yang sering kali dikirim oleh guru melalui aplikasi perpesanan.

Seorang peneliti di SMERU Institute yang berbasis di Jakarta, Florischa Ayu Tresnatri, mengatakan akses ke pelajaran online terganggu oleh konektivitas yang tidak merata.

BACA JUGA! Menunda Pemakaman Jenazah, Apa Hukumnya dalam Islam?

Banyak keluarga yang hanya memiliki satu smartphone yang sering kali dibutuhkan oleh orang tua untuk bekerja.

Defisit pembelajaran di Indonesia ini mengkhawatirkan bagi siswa sekolah dasar (SD) dan juga kesejahteraan masa depan Indonesia.

“Dividen demografi yang dulu kita banggakan akan menjadi kutukan demografi jika kita tidak melakukan sesuatu untuk mengurangi kehilangan pembelajaran ini,” ucap Tresnatri.*

Artikel ini telah tayang di MEDIAKEPRI.com dengan judul  Bank Dunia: Masa Depan Indonesia Mengkhawatirkan! Dampak Defisit Pembelajaran saat Pandemi Covid-19