Jaminah (jilbab cokelat) semasa hidup berfoto bersama anak-anaknya, termasuk dengan yang mengalami cacat. (istimewa)

Karimun, Lendoot.com – Sejak 12 hari lalu, atau tepatnya 10 Juli 2019 lalu, suasana duka masih menyelimuti keluarga Sulai Batun Kasih, Warga Desa Tanjung Berlian, Urung Barat, Kecamatan Kundur Utara, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Satu-satunya penopang ekonomi keluarga Sulai, ibunya bernama Jaminah Linda  (43) sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia, berakhir tragis. Jaminah Linda dikabarkan meninggal dunia karena dibunuh di rumah sewanya di Jalan Kampung Tali Air, Banting, Kuala Lumpur, Malaysia.

“Jadi kami tahunya, saat ibu rencana balik hari itu, tapi tak ada balik-balik. Lalu kami telepon teman ibu di sana. Dan setelah ditengok, ibu sudah meninggal karena dibunuh,” kata Sulai Batun Kasih kepada Lendoot.com, sore tadi.

Seperti dikutip dari media berita online Malaysia, utusan online, telah ditemukan mayat seorang wanita dalam keadaan terbaring di atas tilam berlumuran darah. Ada bekas luka akibat hentakan di bahagian dahi dan pipi dipercayai dipukul dengan batang besi.

Demikian pernyataan Ketua Polis daerah, Superintenden Azizan Tukiman seperti diberitakan utusan online.

Setelah mencari tahu tentang kabar tersebut, Sulai atau bisa disapa Eno itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Kabar inipun sampai ke neneknya di Batam. Sampai akhirnya, neneknya Satirah memaksakan diri berangkat keesokan harinya untuk menjenguk langsung anaknya, Jaminah Linda, yang kabarnya dibunuh tersebut.

Nasib tak bagus malah dialami nenek Satirah. Dia terkena serangan stroke saat perjalanan kapal laut menuju ke Johor Malaysia. Akhirnya, dalam perjalanan itu, kapten kapal memutar balik kemudinya untuk menurunkan Satirah di Pelabuhan Tanjungbalai Karimun.

“Langsung dibawa ke RSUD M Sani. Saat ini nenek Satirah masih dirawat di RSUD M Sani,” kata Uji, kerabat Jaminan Linda.

Sementara, meski sudah hampir dua minggu kejadian pembunuhan tersebut, tetap ada keinginan Sulai memulangkan ibundanya, Jaminah Linda, ke Kundur. Hanya saja, Sulai telah berpasrah diri mengingat keadaan ekonomi dan kondisi keluarganya yang serba susah menjadi halangan.

“Mengingat kondisi ekonomi dan kondisi keluarga saya ini, sekarang saya ikhlas bang. Yang kami harapkan sekarang ibu saya bisa keluar dari rumah sakit di sana dan bisa dikebumikan secara layak menurut Syariat Islam di sana, bang. Sekarang saya mengurus adek-adek dan itu menjadi tanggungjawab saya. Apalagi adek saya yang cacat bang. Kasihan,” tutur Sulai kepada Lendoot.com.

Untuk mengurus pemulangan, katanya sudah tak mungkin. Sulai hanya berharap agar ibunya bisa dimakamkan dengan layak di Malaysia sana. “Hanya saja, kami tak ada ongkos untuk mengurusnya ke sana, bang. Inilah yang membuat saya tak berhenti menangis setiap hari,” ungkapnya.

Sulai berharap uluran tangan dermawan, atau pemerintah daerah terkait masalah tersebut. “Saya tak tahu mengadu ke siapa. Melalui pak Hasan kawan kami, coba hubungi media massa, agar kami dapat dibantu. Pemerintah atau dermawan,” harapnya.

Bagi dermawan yang ingin membantu Sulai bisa menghubungi ke nomor ponsel dan atau WhatsApp-nya di 0823-6207-6817. Atau melalui kerabatnya, Uji0813-72602166. (muhdsarih)