Proses pemusnahan amonium nitrat di Kanwil DJPB Kepri, siang tadi. (ist)

Karimun, Lendoot.com – Penanganan Amonium Nitrat, memang menjadi atensi pemerintah pascaterjadinya insiden di Beurit, Lebanon, pada 4 Agustus 2020 yang lalu. Ratusan orang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.

“Kita tahu pada 4 Agustus lalu terjadi di kota Beirut dan kita menyimpan bahan yang sama seperti yang terjadi di sana. Pemusnahan ini sesuai kesepakatan setelah melaksanakan rapat,” ungkap Kakanwil DJBC Khusus Kepri, Agus Yulianto., Rabu (9/9/2020).

Agus mengungkapkan, penanganan terhadap barang bukti Amonium Nitrat itu menyita waktu yang cukup lama. Ia menyakini, langkah pemusnahan yang dilakukan bisa meminimalisir adanya potensi masalah yang bisa ditimbulkan dari proses hukum atas barang bukti itu.

“Proses ini sudah tuntas, dengan ini kita lihat masalah yang bertahun-tahun dan tidak mudah, namun dengan sinergi ini dapat kita lakukan dengan baik,” tutupnya.

Kejaksaan Negeri Karimun lakukan pemusnahan barang rampasan negara berupa 532,9 ton Amonium Nitrat (NH4NO3) dengan cara dilarutkan dan dikubur, Rabu (9/9/2020).

Pemusnahan itu berlangsung di halaman belakang Kanwil DJBC Khusus Kepri disaksikan Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Sudarwidadi, Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejagung RI, Agnes Triani, Kakanwil DJBC khusus Kepri, Agus Yulianto dan dihadiri Kasubdit II Dit Baintelkam Mabes Polri, Kombes Pol Drs. Didi, dan Wakil Bupati Karimun, Anwar Hasyim.

Sudarwidadi mengatakan proses hukum terhadap kasus ini berlangsung di wilayah hukum Kejari Karimun dan Kejari Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

 

Pemusnahannya, Amonium Nitrat Dilarutkan Dalam Air

Kejaksaan Negeri Karimun lakukan pemusnahan barang rampasan negara berupa 532,9 ton Amonium Nitrat (NH4NO3) dengan cara dilarutkan dan dikubur, Rabu (9/9/2020).

Pemusnahan itu berlangsung di halaman belakang Kanwil DJBC Khusus Kepri disaksikan Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Sudarwidadi, Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejagung RI, Agnes Triani, Kakanwil DJBC khusus Kepri, Agus Yulianto dan dihadiri Kasubdit II Dit Baintelkam Mabes Polri, Kombes Pol Drs. Didi, dan Wakil Bupati Karimun, Anwar Hasyim.

Proses pemusnahan amonium nitrat di Kanwil DJPB Kepri,

Sudarwidadi mengatakan proses hukum terhadap kasus ini berlangsung di wilayah hukum Kejari Karimun dan Kejari Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

“Awalnya barang bukti merupakan hasil kegiatan dari bea cukai terhadap penyelundupan, ditindaklanjuti dari kejaksaan Karimun dan Tanjungpinang. Akhir pada persidangan itu barang bukti dirampas untuk negara,” ujarnya saat pemusnahan Amonium Nitrat di kantor DJBC Khusus Kepri, Rabu (9/9/2020).

Pada awalnya, tambahnya, barang rampasan negara itu rencana awalnya akan dklakukan pelelangan. Namun, hal itu terhambat oleh beberapa hal sehingga akhirnya dimusnahkan.

“Eksekusi dengan pelelangan tidak mudah dengan hambatan pembeli dan peraturan kapolri tentang perizinan pengamanan pengawasan bahan peledak komersial. Akhirnya kasus ini kami naikkan ke atas atau Kejagung dalam hal ini bagian pemulihan aset,” katanya.

Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejagung RI, Agnes Triani mengatakan, ratusan amonium nitrat itu merupakan hasil penindakan dari 10 perkara yang ditangani Kejari Karimun dan Kejari Tanjungpinang.

“Ini dari tahun 2010 lalu dengan total 7 perkara di Kejari Karimun dan 3 perkara di Kejari Tanjungpinang,” katanya.

Agnes mengatakan, barang rampasan negara tersebut sebenarnya sebagian akan dilakukan pelelangan dan sebagian akan dimusnahkan. Akan tetapi, untuk proses pelelangan tersebut, pembelinya terkendala izin.

“Sempat kita lelang sebanyak 3 kali, namun pembelinya tidak ada. Ada satu pembeli, akan tetapi terkendala dengan izin, sehingga tidak bisa,” katanya.

Ia menjelaskan, pemusnahan yang dilakukan dengan cara dilarutkan didalam air ini telah melalui kajian para ahli Mabes Polri.

“Ini adalah cara untuk memusnahkannya dan sudah berdasarkan kajian ahli. Ini yang paling aman dan tidak menimbulkan bahaya. Selain itu kita juga saya luruskan, amonium nitrat ini tidak menyebabkan lembah B3,” katanya.

Pemusnahan 532,9 Ton Amonium Nitrat ini akan dilakukan secara bertahap dan akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

“Ini secara bertahap karena harus dilarutkan dalam air. Mungkin akan berjalan sampai tiga hari baru selesai,” katanya. (rk)