Menyelami Makna Islami dan Kearifan Lokal dalam Tradisi Tepung Tawar

Foto beberapa bahan untuk tradisi tepung tawar. (ft holidayayo)

Di berbagai daerah Melayu dan beberapa suku di Indonesia, tradisi Tepung Tawar telah lama menjadi ritual adat yang sakral. Ritual ini bukan sekadar prosesi penyambutan atau pemberian restu, melainkan sebuah manifestasi indah dari perpaduan nilai-nilai Islami dengan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

Tepung Tawar umumnya dilakukan dalam acara-acara penting, seperti pernikahan, penobatan, upacara selamatan, bahkan penyambutan tamu agung. Tujuannya adalah memohon keselamatan, menolak bala, dan memberikan berkat serta doa restu kepada pihak yang diupacarakan.

Intisari Islami dalam Simbol-Simbol Lokal

Meskipun terlihat sebagai ritual adat murni, filosofi inti dari Tepung Tawar sangat selaras dengan prinsip-prinsip Islam, yakni memohon perlindungan dan kebaikan hanya kepada Allah SWT. Perpaduan ini terlihat jelas pada elemen-elemen yang digunakan:

Air Bunga Tujuh Rupa: Melambangkan kesucian, keharuman, dan harapan agar kehidupan yang dijalani pihak yang ditepung tawar dipenuhi keberkahan dan nama baik. Air juga mengingatkan pada fungsi air dalam bersuci (thaharah) dalam Islam.

Beras Kunyit dan Beras Putih: Beras kuning atau kunyit melambangkan kemakmuran, sementara beras putih melambangkan kebersihan dan ketulusan hati. Simbol ini mewakili doa agar kehidupan subur rezeki dan terbebas dari hal-hal buruk.

Inai (Henna): Dulu digunakan sebagai penolak bala, kini sering dimaknai sebagai simbol keindahan, kebahagiaan, dan kematangan. Penggunaan inai juga dikenal dalam tradisi Nabi Muhammad SAW.

Prosesi Penuh Doa dan Penghormatan

Prosesi Tepung Tawar biasanya dipimpin oleh pemuka adat atau tokoh agama yang dituakan. Ritual dimulai dengan pembacaan doa-doa yang bersifat Islami, memohon keselamatan dan keberkahan.

Setelah doa, pemuka adat akan mengambil secubit beras, bunga, dan air tawar, lalu menyentuhkannya secara simbolis ke telapak tangan, kening, atau bahu pihak yang diupacarakan. Setiap sentuhan disertai dengan untaian nasihat dan doa restu.

Budayawan Melayu, Drs. Syahril, menjelaskan, “Tepung Tawar adalah ritual yang telah disaring dan diselaraskan dengan akidah. Ia menjaga adab untuk selalu memulai dan mengakhiri segala sesuatu dengan doa, memastikan kebaikan datang dan keburukan dijauhkan, sebuah prinsip yang sangat Islami.”

Dengan demikian, tradisi Tepung Tawar tidak hanya melestarikan identitas lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal dapat berharmoni secara indah dengan nilai-nilai spiritualitas Islam, menjadikannya warisan budaya yang kaya makna dan penuh penghormatan. (berbagaisumber/rsd)