Hazizah saat mengajar di salah satu sekolah di pulau tempatnya mengabdi. (des)

“Kalau pagi hari air laut di pulau itu kering, anak-anak tidak akan masuk ke sekolah. Mereka akan meminta izin untuk pergi ke laut, karena mereka akan pergi ke pantai untuk mencari kerang. Jadi, proses belajar mengajar akan tertunda ke siang atau sore hari,” jelas Hazizah.

Berpegang teguh pada komitmen untuk menjadi seorang guru yang ikhlas dan sabar, akhirnya berbuah manis bagi Hazizah (36). Impiannya menjadi PNS akhirnya terwujudu, setelah 13 tahun mengabdi menjadi guru honor sejak tahun 2007.

Hazizah, perempuan asal Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika menjalankan tugas mulianya sebagai guru.

Selama 13 Tahun mengabdi sebagai guru honorer komite, Hazizah menerima gaji sekitar Rp200 ribu per bulan. Dalam hatinya, Hazizah tetap yakin hahwa yang ia jalani akan indah pada waktunya.

Dengan memegang ijazah PGSD UT (Universitas Terbuka) Cabang Dabo Singkep, selama 13 tahun itulah beberapa sekolah silih berganti dia mengajar.

Menyandang profesi guru honorer dimulainya pada 2007. Awalnya, dia mengajar di SDN 020 Air Salak, Kecamatan Singkep, lamanya sekitar tiga tahun. Kemudian pada 2010, ia pindah ke sekolah dengan letak di pulau terpencil yaitu Pulau Tembok.

Kemudian dari 2011 sampai dengan 2016, dan pada 2016 ia diterima sebagai GTT Provinsi yang ditempatkan di SDN 008 Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat.

Menceritakan Saat mengajar di Pulau tembok, ada pengalaman yang selalu ia ingat, yakni anak-anak suku laut di pulau yang harus dipahami.

“Pendidikan di pulau terpencil tidak selalu bisa menjalankan kurikulum yang diinginkan oleh pemerintah.”

“Kalau pagi hari air laut di pulau itu kering, anak-anak tidak akan masuk ke sekolah. Mereka akan meminta izin untuk pergi ke laut, karena mereka akan pergi ke pantai untuk mencari kerang. Jadi, proses belajar mengajar akan tertunda ke siang atau sore hari,” jelas Hazizah.

Menurut Hazizah, hal ini yang harus dimaklumi karena minimnya minat mereka untuk belajar, sehingga proses belajar yang harusnya dimulai pagi hari terpaksa tertunda. Anak-anak memilih untuk ke laut daripada ke sekolah.

“Terkadang harus berbesar hati untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, karena kalau dipaksakan mereka akan memilih untuk berhenti sekolah,” tambahnya.

Perjuangan Hazizah untuk sampai di titik ini tidak lah semudah membalikan telapak tangan. Ia harus berulang kali mengkuti tes CPNS.

“Saya sudah 6 kali mengikuti tes CPNS dan alhamdullilah pada tes yang ke 6 pada tahun 2019 melalui tes CAT saya lolos CPNS dan ditempatkan di SDN 006 Desa Sekanah, Lingga Utara,” ungkap Hazizah.

Hazizah hanyalah salah satu dari sekian banyak guru honor yang terus berjuang untuk mengejar mimpi.

Hazizah meyampaikan juga kepada rekan rekan honorer yang sedang berjuang baik yang mengiuti tes CPNS maupun PPPK untuk tetap semangat. Menjadikan kegagalan sebagai awal pondasi untuk membangun sebuah kesuksessan. (dessy)