Karimun, Lendoot.com – Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Tanjungbalai Karimun menggelar rapat koordinasi kewaspadaan dan respon terhadap KLB Polio Vaccine Derrived Polio Virus (cVDPV) Tipe 1 di Malaysia, Senin (23/12/2019).

Bachtian Agus Wijaya menjelaskan, hal ini dilakukan guna mencegah wabah tersebut masuk ke Indonesia khususnya di Kabupaten Karimun. Pasca adanya satu warga dari Malaysia terkena virus tersebut pada 6 Desember 2019 lalu dan 7 kasus serupa terjadi di Filipina pada akhir November 2019.

“Sesuai Konfirmasi terjadi kasus Polio di Malaysia, maka melalui Edaran Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes kita harus melakukan kewaspadaan dan respon terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) ini,” jelasnya.

Bachtian mengatakan, pencegahan terhadap penyebaran kasus Polio ini dengan cara melakukan deteksi virus dan vaksinasi bagi para penumpang yang baru tiba dari Malaysia maupun yang bepergian ke Malaysia.

“Pada prinsipnya kita akan lakukan vaksinasi juga bagi masyarakat yang ingin bepergian ke Malaysia. Termasuk yang baru tiba ke Karimun itu kita deteksi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun Rachmadi mengatakan, secara nasional peningkatan cakupan imunisasi Polio di Karimun telah mencapai target.

“Baik itu Polio 1 dengan oral atau tetasan, dan Polio 2, 3, dan 4 dengan suntik itu cakupannya setiap tahun tercukupi. Bahkan hingga November tahun ini,” ujarnya.

Rachmadi menambahkan, secara umum kejadian kasus polio ini hanya akan dialami pada usia di bawah 15 tahun. Penyebaran virus polio dapat terjadi melalui kontak langsung dengan tinja penderita Polio, sehingga vaksinasi sangat diperlukan untuk mencegah terjangkit virus tersebut.

“Untuk kasus Polio ini 98 persen dialami oleh usia di bawah 15 tahun. Untuk orang dewasa itu hanya 2 persen. Gejala yang akan dialami jika sudah terkontaminasi adalah lumpuh, dan umumnya diawali gejala demam,” tambahnya. (riandi)