Surya Makmur Nasution

Penulis:  Surya Makmur Nasution, Politisi, Ketua PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Batam Perode 2022-2026

Kini, media sosial (social media) atau disingkat sosmed atau medsos, menjadi teman keseharian yang dibawa kemana saja. Kecanggihan teknologi informasi membuat dunia begitu cepat berubah. Semua serba digital. Cepat, dinamis dan realtime.

Saat mau tidur, bangun tidur, bahkan dalam aktivitas sehari-hari, medsos senantiasa dalam genggaman. Tanpa bermedsos,sepertinya dunia terasa hampa atau tak bermakna. Up date status, seperti menjadi kewajiban keseharian.

Begitulah, dampak medsos dalam kehidupan manusia pada umumnya. Medsos seperti sihir. Medsos dapat merubah perilaku kita bahkan bila tak pandai atau cerdas, medsos menjadikan kita seperti “budak”. Bahkan, bila kita tak cerdas bermedsos, penjarapun menjadi taruhannya. Ketika jari jemari kita tanpa sadar memposting hoax, ujaran kebencian, siap-siaplah pihak lain akan melaporkan ke polisi.

Baru-baru ini Dinas Kominfo Kepri dalam satu acara di Batam merilis bahwa ada 1,9 juta warga Kepri yang sudah melek internet. Artinya, ada 1,9 juta dari 3 juta kebih warga Kepri yang sudah menggunakan medsos (Tribun Batam, Jumat 26/8/2022).

Data warga Kepri 1,9 juta sudah melek  internet, patut dicermati dan menjadi perhatian kita semua. Bukan hanya para pebisnis start up, pedagang online, grup-grup medsos, kalangan profesional, akan tetapi juga para politisi.

Para politisi yang tidak akrab dengan medsos, tidak up date, dipastikan akan tertinggal informasi, bahkan teralienasi.

Era digitalisasi saat ini, politisi bukan hanya menjadikan medsos sebagai update status, akan tetapi menjadi wahana dan sarana menyampaikan pesan dan gagasan.

Ketika politisi menggunakan medsos sebagai penyampai pesan dan gagasan ke publik, di sinilah pentingnya kecerdasan dalam bermedsos.

Dalam bermedasos, publik menjadi hakim yang bebas menentukan apa yang menjadi kemauan dan kehendaknya. Bukan tidak mungkin cacian atau bullying akan digunakan menghantam status medsos kita.

Bila mental kita keropos, sikap “baper” atau emosi bahkan saling balas bullying pun tak terelakkan. Di sinilah letak pentingnya bermedsos secara cerdas.

Bila kita mampu dan bisa bermedsos secara cerdas, sudah seharusnya “like”, “comment”, dan “share” menjadi viral atas status yang kita buat.

Hanya saja, bagi seorang politisi, bermedsos secara cerdas tidak cukup hanya sekadar up date status. Tidak cukup hanya sekadar menunjukkan eksistensi kita dalam aktivitas sosial.

Bagi seorang politisi cerdas, goal dari bermedso adalah menambah dukungan dan insentif suara elektoral. Sehebat apa pun status medsos seorang politisi, tapi tak berdampak kepada penambahan elektoral, tentu tidak begitu bermanfaat, selain sebagai penggiat medsos.

Bagaimana menjadikan medsos sebagai sarana dan wahana penambahan elektoral vote, di sinilah dibutuhkan kecerdasan seorang politisi dalam bermedsos.

Yuk, para politisi kita bermedsos secara cerdas. (**)