Kepala Disparsebud Karimun Sensisiana saat memberikan keterangan pers terkait proyek penataan Pantai Pelawan di Aston Karimun, siang tadi. (msarih)

Karimun, Lendoot.com – Pengerjaan kegiatan penataan objek wisata Pantai Pelawan dari DAK (dana alokasi khusus) yang salah satu item pekerjaannya adalah pembuatan ruang ganti 2 unit toilet/WC (water closet) senilai Rp817 juta, ternyata lebih besar lagi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karimun Sensissiana menyampaikan bahwa, proyek penataan objek wisata Pantai Pelawan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) itu, sesungguhnya Rp 1,2 miliar lebih.

“Itu untuk tiga jenis pekerjaan. Pembangunan menara pandang sebanyak satu unit, pembangunan kios cendramata dua unit dan pembuatan ruang ganti dan atau WC sebanyak dua unit.Semua sudah dikerjakan. Selesai dan tidak ada masalah,” ujar Sensisiana di depan sejumlah wartawan di Aston Hotel, Jumat (19/3/2021) siang tadi.

Sensisiana atau kerap disapa Sensis menyebut bahwa pengerjaan proyek itu tidak ada masalah. Ini dilakukannya untuk menepis kabar bahwa pembangunan item WC itu diduga bermasalah. Disebut anggarannya sangat fantastis, terlalu mewah dan besar anggarannya tidak sesuai dengan jenis dan hasil proyeknya.

“Iya, Kami mencoba meluruskan pandangan masyarakat terkait pemberitaan atau kabar kalau pembangunan dua unit WC itu nilainya sangat wah dan fantastis. Kabar itu semua tidak benar dan menyesatkan,” jelasnya bermaksud mengklarifikasi.

Lebih lanjut, Sensis memberi penegasan bahwa pengerjaan proyek itu sudah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Juknis (Petunjuk Teknis) Kemenparekraf RI. “Sudah sesuai. Tidak ada masalah. Dari dulu saya kalau kerja ya kerja. Tidak pernah mau main-main. Dan, kami siap memaparkan dan mempertanggungjawabkan,” tegasnya.
Proyek yang dikerjakan Kontraktor Pelaksana CV Samara Karya dengan Konsultan Pengawas CV Abhista itu sebelumnya sempat mengundang sikap sinisme masyarakat Karimun. Pasalnya, untuk membangun dua buah WC saja, anggaran yang digunakan mendekati angka satu miliar rupiah, atau Rp817 juta.

Hanya saja dengan lugas dan tegas, Sensis lagi-lagi menegaskan bahwa pengerjaan yang dilakukan kontraktor pelaksana dan kontraktor pengawasnya, sudah sesuai. “Sudah tepat waktu, tepat volume, tepat biaya. Dan, sudah sesuai dengan kualitasnya,” ujar Sensis.

Dalam kesempatan itu, Sensis menyebut bahwa perjuangan Kabupaten Karimun mendapat proyek penataan objek wisata itu sebenarnya sudah lama diajukan.

Hanya saja baru dapat terealisasi, Juli 2020. Lalu, Sensis merasa sedih dan gusar. Sedih karena masyarakat yang termakan kabar menjadikan dirinya target fitnah. Gusar, karena dia merasa perjuangan bagi daerah ini mendapatkan DAK dari pemerintah pusat untuk membangun daerah ini, justeru mendapat cemoohan dan tudingan tidak berdasar, bahkan katanya, kabar yang beredar bernada prasangka tidak benar.

“Saya juga punya keluarga, anak. Untungnya anak-anak saya sudah faham karena sering saya beri pengertian. Ini resiko jabatan. Yang penting saya ya, kalau sudah kerja tidak mau main-main. Kerja ya kerja. Artinya pekerjaan saya, bisa saya pertanggungjawabkan sampai ke akherat,” tuturnya.

Untuk aturan pertanggungjawaban secara teknis pemerintahan, Sensis mengatakan sudah dilakukan. Setelah pekerjaan proyek ini selesai, katanya, langsung dilaporkannya ke Inspektorat Daerah dan sudah diaudit APPIP (Aparatur Pemerintahan Pengawasan Internal Pemerintah).

“Saat ini juga sedang diaudit BPK (Badan Pengawasan Keuangan) Kepri, jadi sudah dilaporkan semuanya. Dan proyek itu sekarang masih masa perawatan, ya,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur CV Abhista Konsultan Teddy Setiawan, selaku konsultan pengawas proyek tersebut juga merasa perlu turut memberikan penjelasan ke masyarakat. Pasalnya, dai juga merasa tertuding atas kabar miring terkait pembangunan WC yang dianggap super mewah tersebut.

Teddy ikut angkat bicara dan menyampaikan secara teknis item pekerjaan dari hasil pengawasannya. “Jadi, masyarakat perlu tahu bahwa item pekerjaannya banyak dan bahan yang digunakan juga sudah sesuai dengan RAB-nya. Malah, sebesar Rp35 Juta saya minta kontraktor pelaksana kembalikan ke kas Negara karena kita nilai, anggarannya pekerjaan lebih tinggi dari nilai kontraknya,” papar Teddy.

Selain pembuatan dua unit ruang ganti toilet senilai Rp817 juta, dari Rp1,2 Miliar itu, katanya, juga diperuntukkan untuk beberapa item pekerjaan lainnya. Di antaranya; Banguan WC ukuran 6,2 x 8 meter. Tower air berkapasiras 1.000 liter dan mesin genset, tempat bilas full keramik plus saluran air resapan dan saluran keliling, dan terkahit pas pavingblock menuju ke toilet dan tempat bilas. (msa)