Karimun, Lendoot.com – Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjungbalai Karimun menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Ballroom Hotel Aston, Kamis (13/1/2/2020) pagi.

Dalam diskusi tersebut, Karantina mengajak instansi terkait untuk bersinergi mengawasi lalu lintas tumbuhan satwa liar dan langka.

Pihaknya juga mengundang narasumber dari BKSDA dalam hal ini komunitas pecinta burung, reptil dan tanaman hias guna agar mengetahui secara pasti bagaimana prosedur lalu lintas tumbuhan, satwa liar dan langkah.

Kepala Stasiun Karantina Kelas II Tanjung Balai Karimun, Priyadi mengatakan, saat ini Indonesia sebagai negara kedua di dunia terkait jenis spesies satwa yang terancam punah.

“Fenomena kepunahan tersebut disebabkan banyaknya pembukaan lahan pertanian secara masif dengan tidak teratur dan perdagangan satwa secara ilegal yang beragam dengan jumlah 370 ribu spesies,” katanya.

Priyadi menjelaskan, acara tersebut juga bertujuan untuk menjawab berbagai pertanyaan dari para komunitas terkit persyaratan pengiriman tumbuhan dan satwa liar dan langka serta mengantisipasinya.

“Komunitas pecinta burung, reptil dan tanaman hias dapat mengetahui secara pasti bagaimana prosedur lalu lintas tumbuhan dan satwa liar dan langka.

“Selama ini mereka hanya melakukan permohonan ke karantina saja, padahal pemilik juga harus melengkapi dokumen lain di luar karantina seperti, surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN) maupun surat angkut tumbuhan dan satwa luar negeri (SATS-LN),” jelasnya.

Diketahui, negara mengalami kerugian besar dan dalam setiap minggu sejumlah kantor Karantina yang ada diberbagai wilayah di Indonesia melaporkan adanya aktivitas penyeludupan satwa maupun tumbuhan secara ilegal.

Negara mengalami kerugian sebesar 13 triliun dalam setiap tahunnya akibat aksi dan penyeludupan satwa liar tersebut dengan rekor hingga 2.300 ekor satwa.

Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Karimun, tercatat berbagai pengiriman jenis satwa dalam setiap tahun di antaranya burung pleci kacamata putih pada tahun 2018 adalah 10.616 ekor, sedangkan pada tahun 2019 jumlahnya menurun di angka 2.961 ekor.

Untuk pengiriman tumbuhan jumlahnya lebih sedikit dari pada pengiriman burung. Pada tahun 2018, akar pasak bumi jumlahnya 37 kg dan pada tahun 2019 menjadi nihil atau nol. (rnd)