Karimun, Lendoot.com – Selasa (2/4/2019) suasana ruang kelas SDN 013 Teluk Air Karimun yang awalnya riuh dengan suara siswanya, berubah menjadi hening dan cukup mengharukan.

Siswa yang dikumpulkan dalam sebuah ruangan pagi tadi menyambut antusias tamu, anak berkebutuhan khusus. Riuh rendah akhirnya berubah seketika saat mendengar pemaparan salah satu pembicara tentang anak berkebutuhan khusus.

“Mereka sama dengan kita. Jadi kita jangan menghinanya, mencemoohnya. Jangan mem-bully-nya. Mari kita jadikan anak-anak special ini sebagai sahabat kita,” ujar Annisa, Ketua Forum Komunikasi ORangtua Spesial Indonesia (Forkasi) Chapter Karimun-Kepri di depan belasan siswa SDN 013 Teluk Air tersebut.

Sebelumnya, para siswa dimintai pendapatnya tentang anak berkebutuhan khusus. Jawabannya beragam. Ada yang menyebutnya aneh, tidak peka terhadap lingkungan, bahkan ada yang menyebut sebagai anak yang aneh.

Setelah dipaparkan betapa sulitnya anak berkebutuhan khusus hidup di tengah masyarakat, akhirnya para siswa semakin tertarik mengikuti pemarapan selanjutnya. Mereka tampak mengerti dan memahami keberadaan anak berkebutuhan khusus tersebut.

Mereka juga menyatakan bersedia mengkampanyekan bersahabat dengan anak berkebutuhan khusus kepada temannya, adik kelasnya, orangtuanya, serta lingkungannya.

Masyarakat kebanyakan beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang aneh, anak yang tidak harus dijadikan teman, dan yang harus dijauhi dari kehidupannya. Dengan berpandangan seperti itu akan membentuk karakter yang mendiskriminasikan anak berkebutuhan khusus, sehingga marginalisasi anak berkebutuhan khusus akan tercipta olehnya.

Anak berkebutuhan khusus merupakan fenomena nyata yang sudah menjadi kosmos atau lingkup hidup manusia. Maka sudah seharusnya bahwa keberadaan anak berkebutuhan khusus menjadi dan harus terakui, sama seperti status eksistensi manusia lainnya.

Meski demikian tentu saja dalam kehidupan selalu ada problematikanya, terutama dalam hal anak berkebutuhan khusus, seperti cara mendidik mereka, dan membiasakan mereka untuk hidup dalam bermasyarakat.

Permasalahan yang menjadi perhatian utama adalah marginalisasi dan diskriminasi anak berkebutuhan khusus. Umumnya marginalisasi alias pengucilan, dan diskriminasi alias pembedaan terhadap anak berkebutuhan khusus terjadi dalam ranah pendidikan dan sosial,

“Ini mempengaruhi aspek kehidupan anak dan perkembangan anak. Akhirnya anak berkebutuhan khusus yang sudah dilabeli sebagai anak yang aneh, dan harus dijauhi dari kehidupan. Sehingga kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk melakukan prilaku sosial atau interaksi sosial menjadi sangat minim,” jelas Annisa.

Berdampak akan minimnya teman yang dikenal. Selain itu dalam ranah pendidikan pun terjadi hal yang serupa. Anak berkebutuhan khusus di label sebagai anak yang bodoh, anak yang tidak mampu untuk dididik dan tidak berguna. Sehingga anak berkebutuhan khusus menjadi tempat kemarahan para guru dan teman-temannya, serta lingkungan sekitar.

Atas kondisi itulah, Forkasi bekerjasama dengan beberapa sekolah di Kecamatan Karimun pagi tadi melakukan semacam roadshow. Tujuannya, agar lingkungan sekitar tidak lagi memandang aneh anak-anak berkebutuhan khusus. Lingkungan bisa menjadikan anak berkebutuhan khusus sebagai sahabat. (muhamadsarih)