Ilustrasi toko obat di Karmun.
Ilustrasi toko obat di Karmun.

Karimun, Lendoot.com – Terkait adanya dugaan keterlambatan pasokan obat ke Kabupaten Karimun, beberapa perwakilan rumah sakit dan apotik di Karimun mengikuti Focus Discussion Group (FDG) di KPU Bea dan Cukai Batam.

Hal ini dikatakan, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Bea dan Cukai Tanjungbalai Karimun, Bagus Hariadi, Kamis (14/2/2019) siang saat ditemui di ruang kerjanya.

Dalam pertemuan tersebut, Bagus Hariadi mendampingi langsung pihak-pihak dari Karimun yakni dari rumah sakit, apotik, Perusahaan Besar Farmasi (PBF) dan ekspedisi pengiriman barang. Pertemuan ini sudah dilaksanakan sebanyak dua kali.

“Ini yang kedua. Pertemuan pertama pada tanggal 18 Januari, dan yang kedua Rabu 13 Februari. Kalau dari Karimun ada RSUD, RSBT, Medic Centre dan Kimia Farma. Kami hanya mendampingi saja karena pengiriman bukan dari sini tapi di Batam,” jelasnya.

Bagus mengatakan, FDG tersebut bertujuan untuk mencari solusi. Diketahui, proses pengurusan di KPU Bea dan Cukai Kota Batam hanya sekitar 12 persen saja dari seluruh total proses pengiriman.

Meski belum dipastikan, kemungkinan pihak KPU Kota Batam akan membuatkan pelatihan terkait pengisian PPFTZ 01 yang termasuk ke dalam proses perizinan.

“Pengurusannya hanya tiga hari layanan itu sudah selesai. Dalam prosesnya Batam (BC Batam) hanya 12 persen dari keseluruhan proses. Dalam pertemuan itu juga ada permintaan agar dibuatkan pelatihan untuk pengisian PFTZ 01 bagi PBF dan ekspedisi,” ujarnya.

Bagus menambahkan, sebelum dilakukan pertemuan di KPU Bea dan Cukai Kota Batam, pihaknya telah memanggil pihak rumah sakit untuk menjelaskan bagaimana prosedur pengiriman barang yang harus dilalui.

“Sebelum ada pertemuan kita sudah panggil. Kita menjelaskan prosesnya. Sehingga sekarang mereka (pihak rumah sakit) jadi tau,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Instalasi Farmasi RSUD Muhammad Sani, Komsatun Agustina mengatakan, keterlambatan memang pernah terjadi di akhir tahun 2018. Namun di tahun 2019 ini hal tersebut tidak terjadi lagi.

“Di tahun 2019 ini pengiriman obat sudah mulai membaik dibanding akhir tahun 2018 kemarin,” ujarnya yang dihubungi melaui ponselnya,” tuturnya. (riandi)