Marsinah, aktivis buruh yang kisahnya menarik perhatian penggiat seni di Indonesia. (wikipedia.org)

Marsinah. Aktivis buruh yang hidup zaman orde baru (orba). Begitu masifnya gerakkannya memperjuangkan buruh, ada yang ‘gerah’.

Hingga, buruh pabrik di Jawa Timur ini menjadi korban penculikan. Selama tiga hari ia menghilang, saat ditemukan ia sudah dalam keadaan tewas dengan kondisi yang memprihatinkan akibat bekas penganiayaan.

Kisah Marsinah yang lahir di Nglundo, 10 April 1969 menarik simpatik dari pengiat seni budaya di Indonesia. Marsinah yang ditemukan terbunuh 8 Mei 1993 di hutan di Dusun Jegong, desa Wilangan menjadi film dan lagu.

Slamet Rahardjo terinspirasi dengan kisah Marsinah. Lalu, ia membuat film dengan judul “Marsinah (Cry Justice)” (imdb.com).

Film yang menghabiskan biaya sekitar Rp4 miliar itu sempat menimbulkan kontroversi. Salah satu penyebabnya adalah munculnya permintaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea yang meminta pemutaran film itu ditunda.

Seniman Surabaya dengan koordinasi penyanyi keroncong senior Mus Mulyadi meluncurkan album musik dengan judul Marsinah. Lagu ini diciptakan oleh komponis MasGat untuk mengenang jasa-jasa Marsinah.

Sebuah band beraliran anarko-punk yang berasal dari Jakarta bernama Marjinal, menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah, yang didedikasikan khusus untuk perjuangan Marsinah.

Lagu ini dibawakan sekaligus dalam dua albumnya, yaitu album termarjinalkan dan album terbaru mereka bertajuk predator. Masing-masing dalam versi yang berbeda.(wikipedia.org)