Karimun, Lendoot.com – Spanduk keprihatinan terhadap kritik pembangunan yang dibentangkan Mahasiswa Kundur di Tanjungpinang-Bintan di Pulau Kundur, hilang.
Spanduk yang dipasang di Tugu Kapal di Pulau Kundur, Senin (5/2/2023) pukul 08.00 WIB, sudah tidak terlihat lagi alias hilang pada sore harinya. Ada dugaan oknum di Pemkab Karimun yang panik dengan isi spanduk yang berisi ungkapan kekecewaan sebagian masyarakat Kundur tersebut.
“Sejak pagi kemarin, pukul 08.00 WIB, spanduk yang telah kami pasang tidak terlihat lagi. Mungkin ada beberapa oknum yang mencoba untuk menghalangi kami menyuarakan isi hati dan pikiran dalam bentuk tulisan tersebut,” ujar Mahasiswa Kundur Tanjungpinang-Bintan, Okta Alamsyah kepada Lendoot.com, Selasa (2/5/2023).
Dalam spanduk tersebut, Mahasiswa Kundur Tanjungpinang-Bintan menuliskan kalimat, ‘PEMKAB KARIMUN TERKESAN BUTA DAN LAMBAT TERHADAP PEMBANGUNAN DAN PERMASALAHAN DI KUNDUR.’ Dengan menambahkan tanda pagar atau #MAHASISWAKUNDURTPI-B.
Okta menyampaikan bahwa aksi tersebut adalah bentuk kekecewaan sekaligus sebagai tanda peringatan kepada Pemkab Karimun. “Agar segera menyelesaikan problem-problem pembangunan yang belum terealisasikan secara optimal di Pulau kundur,” tegasnya.
Sebelumnya, beberapa Mahasiswa Kundur Tanjungpinang-Bintan mengungkapkan keresahan dan kekecewaannya terhadap Pemkab Karimun yang dinilai tidak peka terhadap kebutuhan masyarakat Kundur. Bahkan, mahasiswa menilai Pemkab Karimun buta dan lambat terhadap pembangunan dan permasalahan di Pulau Kundur.
“Acap kali Pemkab Karimun terkesan buta dan lambat terhadap pembangunan dan pemersalahan di Pulau Kundur,” ujar Okta Alamsyah.
Padahal Bupati Karimun Aunur Rafiq, tambah Okta, sering berkunjung ke Pulau kundur dengan berbagai agendanya. “Akan tetapi beliau seperti tidak melihat dan mendengarkan berbagai permasalahan yang telah menjadi aspirasi dari masyarakat Kundur,” katanya.
Keresahan mahasiswa tersebut dilakukan dengan menggelar aksi simpatik dengan membentangkan keprihatinan terhadap pembangunan dan permasalahan di Pulau Kundur tersebut.
Mahasiswa menyesalkan dengan besarnya APBD Tahun Anggaran 2023 sebesar Rp 1,349 triliun (naik dari sebelumnya Rp1,245 triliun), namun anggaran yang sangat besar seperti itu pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Okta menyebut, banyak fasilitas umum yang kian rusak seharusnya dapat diperbaiki dengan segera oleh Pemkab Karimun.
Okta menyebut masih banyak slogan pemerataan pembangunan oleh Bupati Karimun Aunur Rafiq yang belum terealisasikan.
Salah satunya di Kecamatan Kundur, pembangunan seperti perbaikan jalan yang berlubang dan lampu jalan sangat tidak memadai. Bahkan pekerjaan fasilitas umum seperti sarana jalan dibuat asal jadi sehingga cepat rusak dan jauh dari perawatan.
Persoalan lampu jalan dan jalan berlubang, ujarnya memisalkan, adalah salah satu permasalahan yang krusial untuk segera direalisasikan. Pasalnya, kondisi pada malam hari dari Kecamatan Kundur Utara menuju ke Kecamatan Kundur tidak tersedia penerangan jalan memadai ditambah lagi dengan jalan yang berlubang, sangat rawan terjadi kecelakaan.
Selain itu juga mengenai pelayanan pembuatan KTP, dan juga tempat pembuangan akhir (TPA) di Kundur sampais aat ini belum ada juga ketersediaan sarana dan prasarananya. Termasuk Rumah Sakit di pulau di Kundur yang tidak memadai.
“Kami meminta kepada Pemkab Karimun untuk fokus membangun infrastruktur dan menyelesaikan masalah yang ada di pulau Kundur yang menjadi aspirasi masyarakat pulau Kundur. Tercapainya visi dan misi Kabupaten Karimun itu sendiri bukan hanya sekedar lampiran dan paparan belaka,” ungkapnya.
Okta menuturkan, keluhan ini merupakan hasil yang kerap didiskusikan Mahasiswa Kundur Tanjungpinang-Bintan saat mereka berada di Kota Tanjungpinang-Bintan. Khususnya terkait kinerja Pemkab Karimun mulai dari pembangunan, pendidikan, ekonomi dan permasalahan lainnya yang ada di pulau Kundur. (msa)




