Sugianto, ne;leyan di Sawang yang masih setia menjalani pekerjaannya sedang memperbaiki jaring ikannya. (ist)

Karimun, Lendoot.com – Menjalani pekerjaan sebagai nelayan sudah dilakukan Sugianto (30) selama bertahun-tahun lamanya, karena memang sudah menjadi pekerjaan turun-temurun dari ayah hingga kakeknya.

Dari eritanya, kesehjateraan sebagai nelayan belum berpihak kepadanya. Tingginya ongkos atau biaya untuk melaut terkadang tidak sebanding dengan penghasilannya.

Dari biaya pembelian jaring, sampai dengan biaya bahan bakar yang kian mahal, membuat Sugianto harus berpikir dan bekerja lebih keras menutupinya dari penghasilannya yang tidak menentu tersebut.

Sebenarnya, Sugianto masih ingin berhasil sebagai nelayan. Dia berkeinginan dapat menambah peralatan tangkapnya sehingga bisa meningkatkan hasil tangkapannya, dan bisa menutupi biaya melaut. Syukur-syukur bisa lebih untuk ditabung.

Sugianto mengaku belum mampu memenuhi harapannya tersebut lantaran masih terkendala keterbatasan modal seperti dipaparkan sebelumnya.

“Karena terbentur modal yang tidak sedikit saya tahan dulu untuk menambah alat tangkap,” sebutnya.

Dirinya kembali memiliki harapan saat mendengar informasi  program permodalan untuk pelaku usaha dari sebuah badan usaha milik negara di wilayahnya.

Lalu dirinya beserta rekan nelayan lainnya mencari informasi lebih lanjut apakah para nelayan bisa ikut mengikuti program tersebut.

“Syukur Alhamdulillah kami mendapatkan tanggapan yang positif dari mereka. Setelah mendapatkan informasi dari pihak perusahaan dengan lebih jelas saya bersama sesama nelayan di Sawang Selatan mencoba mengajukan dana PUMK tersebut,” ucapnya.

Setelah mendapatkan dana tersebut akhirnya Ia bisa menambah jaring dan perbaikan pompong agar dapat digunakan lebih maksimal.

Bagi warga Desa Sawang Selatan ini berprofesi sebagai nelayan sudah menjadi profesi turun temurun dari orang tuanya. Dirinya sudah terbiasa menjalani profesi ini.

Mencari rezeki di laut memiliki banyak tantangan, seperti cuaca yang tak menentu. Angin yang kencang hingga berbagai bahaya yang mengintai. Namun, sudah lama menjadi pelaut membuat dirinya sudah terbiasa mengalami hal ini.

“Semoga program ini dapat terus berjalan agar rekan-rekan kami sesama nelayan juga dapat memanfaatkan program ini untuk membantu menambah modal guna memenuhi kebutuhan usahanya. Banyak manfaat dari program ini,” tandasnya.

Ia mencari ikan bersama rekannya tidak hanya di Perairan Karimun, namun bisa sampai ke daerah Tanjung Samak Kecamatan Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti. Sehingga sekali pergi melaut hingga 5-10 hari.

“Kalau sedang rezeki hasilnya lumayan bisa lebih dari modal awalnya. Namun kalau kurang beruntung kadang untuk modal minyak juga belum tertutupi. Karena rezeki dilaut itu juga tidak menentu,” kata Sugianto ditemui beberapa waktu lalu.  (*/msa)