Pintu masuk Perkampungan Betawi di Desa Wisata Digital Setu Babakan. (ist)

Jakarta – Mau tidak mau,transformasi digital selama pandemi COVID-19 harus diadopsi banyak pihak, termasuk pelaku usaha kepariwisataan.

Jika sebelumnya, aktivitas sehari-hari, seperti konsumsi, studi, dan transaksi ekonomi biasa dilakukan secara offline, semua stakeholder kepariwisataan didorong untuk melakukan perubahan struktural dalam prakteknya.

“Transformasi digital adalah proses adopsi teknologi digital untuk menciptakan hal atau metode baru yang lebih efisien dan produktif,” ujar Direktur Manajemen Industri di Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Anggara Hayun Anujuprana, seperti dikutip dari website kemenparekraf.go.id, Rabu (29/6/2022).

Salah satunya, Kemenparekraf juga menginisiasi pembentukan desa wisata digital yang ada di Desa Setu Babakan, Jakarta Selatan.

Aksi ini berjalan atas kerjasama sejumlah pihak sebagai stakeholder atau pemangku kepentingan, termasuk pemerintah provinsi Jakarta, PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang dikelola negara, dan sejumlah perusahaan pemula.

“Upaya tersebut bertujuan untuk memperluas pasar (pariwisata) melalui penggunaan e-commerce serta memperkuat rantai pasokan digital, (memungkinkan) akses mudah ke pendanaan dan pembiayaan, dan pemanfaatan pembayaran digital,” ujarnya.

“Selain itu, inisiatif tersebut dimaksudkan untuk mempercepat pengembangan bisnis dan pembinaan desa wisata,” tambahnya.

Selanjutnya, para pemangku kepentingan akan menyusun rencana aksi bersama untuk pengembangan desa wisata digital.

Kegiatan ini diikuti oleh tujuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yaitu Sanggar Seban 98 (UMKM seni), MSC (fashion), Kembang Goyang Mpok Uyun (kuliner), Betawi Onlen (kerajinan), sebuah UMKM yang bergerak di bidang budidaya lele dan kangkung, Bir Pletok Bang Isra (kuliner), serta Kelompok Usaha Tani Sirih Kuning masyarakat Betawi.

Direktur Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenperin Selliane Halia Ishak mengatakan kegiatan tersebut juga bertujuan untuk membangun ekosistem digital.

Ke-17 subsektor industri ekonomi kreatif tersebut merupakan salah satu yang dapat menghidupkan kembali kegiatan pariwisata di Indonesia, tambahnya. Tiga subsektor industri terbesar adalah kuliner, kriya, dan fesyen.

 “Para UMKM kuliner, kriya, dan fesyen akan difasilitasi untuk melakukan transformasi digital, misalnya bagaimana cara menampilkan produk agar terlihat menarik di marketplace,” ujarnya. (*/msa)