ilustrasi. (gogle)
ilustrasi. (gogle)

Karimun, Lendoot.com – Kasus Covid-19 belum juga selesai, kini kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau malah mengalami lonjakan signifikan di awal tahun 2022.

Walaupun tahun 2022 baru berjalan selama dua minggu, sebanyak 42 kasus telah ditemukan, dengan jumlah angka kematian sebanyak satu kasus.

Kasus tertinggi ditemukan di Kecamatan Karimun dengan 14 kasus DBD, menyusul Kecamatan Meral dengan 13 kasus, Kecamatan Tebing 9 kasus, Kecamatan Kundur Utara 3 Kasus, dan Kecamatan Kundur, Kundur Barat dan Moro masing- masing satu kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Karimun Rachmadi mengatakan, peningkatan kasus DBD di Kabupaten Karimun memang kerap terjadi di awal tahun. Bukan hanya, tahun 2022 akan tetapi kasus juga terjadi peningkatan di tahun 2021 lalu.

“Kenaikan kasus memang terjadi, tetapi masih rata- rata air. Artinya, setiap awal tahun peningkatan kasus DBD di Karimun ini cukup tinggi, sama seperti tahun lalu,” kata Rachmadi, Senin (l7/1/2022).

Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan melibatkan unsur kelurahan untuk mewaspadai kenaikan kasus tersebut.

Masyarakat diharapkan dapat menerapkan 3 M Plus dalam rangka mencegah terjadinya penebaran atau penularan kasus.

“Langkah 3 M ini masih ampuh dalam mengantisipasi. Sehingga, kami menekankan agar masyarakat selalu memperhatikan hal ini dan menerapkan 3M Plus,” katanya.

Untuk penanganannya sendiri, Rachmadi mengatakan, masyarakat diminta untuk selalu waspada dengan melakukan pemeriksaan dini apabila menemukan gejala- gejala DBD pada keluarga khususnya anak.

Hal itu, mencegah agak tidak terjadinya keterlambatan penanganan yang dapat mengakibatkan kematian kepada penderita DBD.

“Masyarakat harus curiga, apabila menemukan gejala- gejala segera bawa kerumah sakit,” katanya.

Selain itu, Rachmadi mengatakan, dalam.penanganannya pihaknya juga melakukan fogging secara fokus. Artinya, foghing dilakukan di kawasan tempat tinggal pasien DBD dengan radius 200 meter.

“Tidak bisa sembarangan, fogging hanya dapat kami lakukan secara fokus artinya hanya radius 200 meter, tidak bisa sembarangan,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga saat ini sedang berupaya menganggarkan pengadaan Abate dan bubuk larvasida untuk masyarakat.

“Tahun lalu kami gak memiliki anggaran, hanya mendapatkan bantuan bubuk Larvasida dari Pemprov Kepri. Saat ini, anjuran pemerintah memang menggunakan itu, tetapi masyarakat belum familiar, sehingga kami anggarkan untuk pengadaan Abate,” katanya. (rko)