Jufri, saat menjelaskan kronologis insiden yang menimpanya.

Karimun, Lendoot.com – Jenazah seorang anak perempuan bernama Aqila berusia 9 tahun tertinggal oleh maskapai penerbangan Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), viral di media social. Bahkan kasus ini mendapat sorotan dari masyarakat Kepulauan Riau.

Pasalnya, sesampai di Bandara Hang Nadim Batam, Jufri orang tua Aqila kaget jenazah anaknya itu tidak sampai bersamaan dengannya.

Dedi Aswandi yang merupakan kerabat korban yang mengunggah bukti pemesanan kargo Batik Air untuk jenazah dan tiket pesawat Lion Air untuk orang dari jenazah tersebut.

Saat berangkat, orang tua Aqila sudah mengantar jenazah ke kargo bandara Soekarno-Hatta. Ia kemudian memastikan akan berangkat sama ke Batam.

Untuk proses penerbangan, pihak keluarga telah membayar administrasi untuk keberangkatan jenazah anaknya tersebut sebesar Rp 10.500.000.

Diketahui,Aqila meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta kerena mengidap penyakit kanker mata. Dia sempat dirawat selama satu bulan lebih di RSCM.

Sebelum dibawa ke RSCM, pengobatan Aqila sempat terhenti karena kendala biaya. Namun, setelah mendapat bantuan dari masyarakat, dia dapat melanjutkan pengobatan.

Menanggapi kabar tersebut, pihak Maskapai Lion Air membantah telah menelantarkan jenazah Aqila, pasien kanker mata RS Cipto Mangunkusumo.

Jenazah itu dikirim dari Bandara Soekarno Hatta-Cengkareng, Jakarta, dengan menggunakan pesawat Lion Air, Selasa (14/5/2019).

Melalui surat pernyataan pihak Lion Air menyatakan, berdasarkan data resevasi yang dilaporkan pihak ketiga kepada Lion air. Untuk pendamping terbang dengan Lion air nomor JT-378 yang berangkat pukul 13.17 wib. Sedangkan penerbangan HUM (Human Remains) pada penerbangan bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Hang Nadim, Batam telah dipersiapkan sesuai nomor Surat Muatan Udara (SMU) dengan kode booking menggunakan batik air penerbangan ID 6862 yang dijadwalkan tiba pukul 18.10 WIB.

“Dari informasi yang diterima petugas Lion air, bahwa tidak ada pemberitahuan dari pihak ketiga sebagai pengurus mengenai perbedaan reservasi HUM dengan pendamping,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion air, Danang Mandala Prihantoro, dalam keterangan tertulisnya.

Dia juga menjelaskan, sebelum HUM masuk ke acceptance desk, petugas bandara keberangkatan telah memastikan mengenai aktual sesuai reservasi. Prosedur ini bertujuan menentukan ruang kargo (space), jadwal keberangkatan, nomor penerbangan serta kemasan harus sesuai syarat pengangkutan jenazah melalui angkatan udara.

“Lion air sudah memberikan keterangan kepada pihak keluarga atas perbedaan waktu kedatangan di Batam. Lion air menyampaikan rasa prihatin atas kejadian yang timbul,” jelasnya.

Lion Air saat ini masih mengumpulkan data, informasi dan keterangan lain mengenai perkembangan pemberitaan dan dari berbagai pihak yang terlibat guna dipelajari lebih lanjut. (riandi)