Bintan, Lendoot.com – Ketika Lebaran Idul Adha, atau kerap disebut Idul Kurban datang, maka masyarakat berasumsi pedagang hewan kurban adalah mereka yang meraup untuk besar, apalagi di daerah kepulauan seperti di Kepri ini.
Hanya saja, anggapan itu tidak selalu benar sebab langkanya stok hewan kurban, khususnya sapi kurban yang saat ini ada di kandang peternak, membuat harganya meroket. Seorang peternak bisa menjual satu ekor sapi kurban seharga Rp30 juta.
Amat, peternak dari Kampung Karang Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan mengatakan sebanyak 17 ekor sapi miliknya sudah dipesan orang untuk Idul Kurban pada pascalebaran Idul Fitri kemarin.
“Sekarang stoknya sudah kosong, permintaan sebenarnya banyak sekali. Sudah banyak yang nelpon saya minta sapi, tapi kosong. Yang 17 ekor di kandang itu sudah pesanan orang semua,” ungkap Amat, pagi tadi.
Amat mengaku jika sudah dua tahun terakhir bibit sapi tidak masuk lagi ke kandangnya lagi lantaran sulitnya mendatangkan dari luar.
Sementara 17 hewan sapi kurban yang sudah dijualnya itu merupakan stok Idul Adha tahun lalu. “Ini (sapi) yang tahun kemarin yang belum siap jual, baru bisa jual tahun ini,” katanya.
Selain itu, Ia menyampaikan jika harga bibit sapi dari luar Bintan saat ini harganya sudah terlalu mahal. Seekor bibit ditebus peternak dengan harga Rp 18 s.d 19 juta per bibit.
“Dulu biasanya bibit harganya Rp12 juta sampai dengan Rp13 juta per bibit, sekarang sudah Rp18 sampai dengan Rp19 juta per bibit,” sebut Amat.
Selain mendatangkan bibit dari luar, Amat juga mengaku beternak sapi dengan metode inseminasi buatan (IB) melalui dokter hewan langganannya. Namun, hasilnya belum mampu mencukupi kebutuhan di Bintan saat ini.
“Indukan saya hanya tiga ekor, jadi setiap tahun cuman dapat tiga ekor anakan saja. Harus tetap datangkan dari luar juga bibitnya,” kata Amat.
Harapannya, pemerintah daerah ikut memperhatikan kondisi tersebut agar pasokan bibit sapi dari luar dapat dipermudah masuk ke Bintan, supaya peternak juga bisa mendapatkan bibit sapi dengan harga yang wajar untuk pembesaran. (amr)




