Haji Permata di tengah masyarakatnya semasa hidup. (ist)

Saat ini nama Haji Permata masih hangat diperbincangkan di tengah masyarakat.

Pasca-insiden penembakan oleh aparat Bea Cukai di perairan Sungai Bela, Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Haji Permata pengusaha asal Batam keturunan Bugis itu, tewas. Dikabarkan, tiga anggota Haji Permata juga ikut tertembak.

Haji Permata tutup usia karena diduga ditembak dadanya  tiga kali oleh aparat yang melakukan penindakan atas indikasi aktivitas penyelundupan tersebut.

Sosok Haji Permata terbilang kontroversial. Almarhum yang memiliki nama asli Jumhan bin Selo itu sering terseret sejumlah kasus terkait kepabeanan karena usaha yang dijalankannya tak luput dari antarmuat barang, baik dari dalam luar negeri atau sebaliknya.

Haji Permata yang berdiam di pesisir Tanjung Sengkuang, Kota Batam ini merupakan pengusaha pemilik kapal yang biasa menjalankan bisnis dan aktivitas antar angkut barang.

Tak jarang, barang-barang yang diangkut bermasalah terkait izin dan legalitas. Seperti hal yang terjadi saat aparat Bea Cukai di Inhil menindak empat high speed craft (HSC) milik Haji Permata. Terdapat sejumlah barang berupa rokok yang masuk kategori ilegal. Haji Permata saat itu juga berada di HSC.

Terlepas dari sejumlah kasus-kasus hukum yang terjadi, Haji Permata memiliki nama yang harum di tengah masyarakat sekitarnya. Khususnya di sekitar Tanjung Sengkuang, tempat dia tinggal.

Layaknya film legendaris Hollywood, Haji Permata itu seperti God Father. Haji Permata dikenal dermawan, karena sering membantu warga-warga sekitarnya, bahkan beberapa pelosok wilayah di Batam pernah mendapatkan uluran tangan bantuannya, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Seperti dilansir batamnews.com, seorang warga Adi mengatakan, Haji Permata bak God Fathernya warga setempat. “Ibaratnya The Godfather versi Tanjung Sengkuang. Orangnya suka membantu warga juga,” kata Adi.

Masih lekat di ingatan Adi saat akan memasuki lebaran Idul Adha, puluhan kambing dan juga sapi Qurban diserahkan Haji Permata. Hewan qurban itu diberikan ke beberapa masjid yang berada di Tanjung Sengkuang

“Ia juga sering memberikan sembako dan juga suka membantu warga yang sedang kesusahan,” Kata Adi.

Ia juga mengingat jika Haji Permata sering membantu warga setempat untuk mendapatkan kerja. “Warga sini sudah banyak yang dicarikan kerja olehnya (Haji Permata), di beberapa PT yang berada di kawasan Batu Ampar dan Tanjung Sengkuang,” ucapnya.

Seorang rekannya yang ikut membesuk ke rumah kala duka, Putra mengaku sempat satu sel dengan Haji Permata. Saat itu Haji Permata ditahan terkait masalah dengan Bea Cukai pada 2015.

“Haji Permata keluar (tahanan) lebih awal dibanding saya. Setelah beberapa bulan saya keluar, saya tidak tau mau kemana karena malu mau pulang ke rumah keluarga, akhirnya saya menjumpai Haji Permata, Dan saya dibantu dari segi keuangan, hingga saya menganggap sosok Haji permata seperti orang tua saya sendiri,” kata Putra.

Sebagai warga keturunan bugis, Haji Permata juga dikatakan Putra selalu ingat asal-usulnya, baik dalam pergaulan maupun dalam kegiatan sosial. Seperti diketahui, Haji Permata sempat menjabat Ketua Kekerabatan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Batam, beberapa waktu lalu.(*/msa)