Dipanggil Ditreskrimsus Polda Kepri Miliki 2 Hektare Lahan di Rempang, Taba Iskandar: Ambil Tanah Taba karena Bukan Penduduk Situ

Anggota DPRD Kepri, Taba Iskandar (kanan) dan Wahyu Wahyudin saat berjumpa dengan pers terkait pemanggilannya dalam persoalan rencana relokasi warga Rempang. (ft qori)

Batam, Lendoot.com – Anggota DPRD Provinsi Kepri, Taba Iskandar akan menjalani pemeriksaan di Ditreskrimsus Polda Kepri, Rabu (13/9/2023) siang ini.

Pemanggilan dan dilanjutkan dengan pemeriksaan Taba Iskandar ini terkait dugaan kepemilikan lahan di Pulau Rempang, Batam.

Sebelum pemeriksaan, Taba Iskandar mengakui memiliki lahan di Pulau Rempang. Luasnya sekitar dua hektare (Ha). Tanah tersebut dibelinya dari salah seorang tokoh masyarakat di pulau tersebut. Tepatnya sebagai pengganti uang yang telah dia pinjamkan. Karena tak mampu membayar diganti dengan tanah tersebut.

“Niat saya hanya membantu dia saat itu. Dia pinjam uang. Karena tak bisa bayar diganti tanah itu,” ungkap Taba, sebelum menjalani pemeriksaan. Proses jual beli itu pun lanjut Taba sudah berlangsung belasan tahun lalu. Sejak dibeli pun tak pernah dia urus.

“Sejak saya beli tak pernah saya urus. Sudah 15 tahun tak pernah saya lihat. Karena memang tak ada niat saya memiliki tanah di sana. Karena saya tahu statusnya status quo. Niatnya cuma membantu,” kata Taba.

Barulah sekitar tahun 2022 lalu, tanah tersebut baru kembali dia lihat dan saat ini sebagiannya ditanami pohon durian.

Taba mengatakan terkait pemanggilannya oleh Ditreskrimsus Polda Kepri, dia menghormatinya. Dia pun akan menjelaskan semuanya pada penyidik. “Diminta klarifikasi, kita hormati. Saya akan jelaskan semuanya,” kata Taba.

Taba Iskandar meminta baik Pemerintah Pusat, BP Batam, maupun Pemko Batam bijak dalam menyelesaikan masalah Pulau Rempang. Bahkan dia Taba menyarankan agar investasi ini bisa berjalan, sesuai dengan harapan masyarakat juga, baiknya konsep pengembangan Rempang didesain ulang dengan mengintegrasikan masyarakat tempatan ke dalam konsep pembangunan, tanpa melakukan relokasi.

Taba juga meminta pemerintah agar dapat membedakan masyarakat tempatan dengan masyarakat yang hanya mengolah lahan di pulau tersebut dan negara berhak mengambilnya. Dia mencontohkan dirinya yang memiliki dua hektar lahan di Rempang. Dia dengan sukarela akan mengembalikan kepada negara.

“Ambil punya Taba, karena Taba bukan penduduk situ, itu boleh diperlakukan (gusur). Itu resiko, sudah tau tanah status quo, kenapa dibeli. Jangan disamakan dengan penduduk asli atau tempatan, duluan mereka tinggal di situ sebelum terbentuknya BP Batam dan Kota Administrasi Batam,” tegas Taba. (rst)