BPS: Transportasi dan Konsumsi Penyumbang Inflasi Mei 2023

BPS menyebutkan, penyumbang utama inflasi periode itu adalah kelompok transportasi. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 10,62 persen secara tahunan dengan andil sebesar 1,29 persen.

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Mei 2023. Inflasi pada periode itu tercatat sebesar 0,09 persen (mtm) atau turun dibanding inflasi bulan sebelumnya, sebesar 0,33 persen (mtm).

Masih berdasarkan data BPS, inflasi IHK secara tahunan menjadi 4,00 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumya, sebesar 4,33 persen (yoy).

Adanya kabar inflasi yang tetap terkendali tentu menjadi angin segar bagi bangsa ini di tengah-tengah perekonomian global yang belum juga membaik. Lantas, bagaimana bacaan BPS mengenai kondisi inflasi periode Mei 2023?

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengungkapkan, tren melandainya tingkat inflasi di Indonesia telah terjadi sejak akhir kuartal I-2023. “Inflasi tahunan konsisten mengalami penurunan sejak Maret 2023,” ujar Pudji, dalam konferensi pers yang dikutip dari indonesia.go.id, Selasa (14/6/2023).

Inflasi pada Maret 2023 tercatat sebesar 4,97 persen secara yoy. Kemudian, inflasi menurun pada April 2023 menjadi 4,33 persen yoy, dan melanjutkan penurunan pada Mei 2023.

Apa saja yang menjadi penyumbang utama inflasi Mei 2023? BPS menyebutkan, penyumbang utama inflasi periode itu adalah kelompok transportasi. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 10,62 persen secara tahunan dengan andil sebesar 1,29 persen.

Kemudian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan sumbangan inflasi sebesar 4,27 persen dengan andil pada inflasi sebesar 1,13 persen. Berikutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi 2,48 persen secara tahunan dengan andil sebesar 0,48 persen.

Berikutnya dari sisi komoditas, penyumbang terbesar datang dari komoditas bensin dengan andil 0,91 persen, beras (0,38 persen),  rokok kretek filter (0,23 persen), kontrak rumah (0,13 persen), dan bahan bakar rumah tangga (0,13 persen).

Merespons data inflasi periode Mei 2023, Bank Indonesia (BI) menilai bahwa inflasi periode itu sudah kembali ke kisaran sesuai dengan sasaran bank sentral yang sebesar 2 persen–4 persen secara tahunan. Meski, memang masih berada di batas atas.

Kondisi ini juga mengartikan bahwa inflasi IHK kembali ke kisaran sasaran lebih cepat dari perkiraan BI sebelumnya. Sebagai informasi, jajaran Dewan Gubernur BI pada bulan lalu memperkirakan, inflasi kembali ke kisaran sasaran pada kuartal III-2023 atau paling cepat di Agustus 2023.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, perkembangan ini tidak terlepas dari respons kebijakan moneter Bank Indonesia yang pre-emptive dan looking forward serta sinergi erat pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan mitra strategis lainnya dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

“Semua itu terintegrasi melalui penguatan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah,” ujar Erwin.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3,0±1 persen pada sisa 2023. (*/msa)