Penyandang disabilitas adalah orang-orang yang telah memiliki keterbatasan fisik,mental,intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi (hubungan timbal bailk Antara individu dengan individu,individu maupun kelompok,atau kelompok dengan kelompok).

Dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpatisipasi penuh dan efektif di tengah masyarakat tersebut.

Dilihat dari data Kementerian Sosial RI tercatat penyandang disabilitas di Indonesia ini, sepanjang tahun 2021 ialah meningkat  berjumlah 207.604.

Sebagaimana yang saya ketahui bahwasanya penyandang disabilitas ini bukanlah sebuah aib yang harus disembunyikan dan ini memanglah suatu kelebihan yang diberikan tuhan kepada kita.

Penyandang disabilitas dalam pandangan sosiologi, di sini saya menggunakan teori kotruksi sosial Peter L Berger untuk memahaminya dalam tiga tahap yaitu,

  1. Ekstenarlisasi merupakan usaha pencurahan diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik

2. Objektivitas lebih ditekankan pada hasil yang telah dicapai baik mental maupu fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia.

3. Internalisasi merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran yang sedemikian rupa sehigga subjektif individu di pengaruhi oleh struktur dunia sosial dalam mengaplikasikannya di kehidupan nyata.

Bagi orang-orang penyandang disabilitas, hak-hak mereka itu akan tetap dilindungi oleh Negara Indonesia, sebagaimana warga negara lainnya. Untuk itulah dilakukan upaya rehabilitas dengan mendirikan dan mengaktifkan berbagai panti dan memberi penyuluhan serta pelatihan agar tetap dapat menunjukkan eksistensi mereka di masyarakat.

 

Penulis: Sarmila, Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritime Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang