Nasib Pekerja Pelabuhan Bongkar Muat Karimun Tunggu Pemimpin Bijak Berpihak

Para pekerja bongkar muat di Pelabuhan Taman Bunga, beberapa hari lalu. (ft msaimi)

Cuaca mendung siang hari menjelang sore itu, membuat hati Budi Kuswanto, lelaki setegah baya yang bekerja sebagai buruh Pelabuhan Bongkar Muat di Taman Bunga Tanjungbalai Karimun, terikut mendung.

Bagaimana tidak? Pekerjaan bongkar muat hari itu merupakan pekerjaan hari terakhir dia  untuk 30 hari ke depan. Entah kapan lagi dia bisa bekerja? Upah Rp700 ribu yang akan dikantonginya nanti dari upah keringatnya hari ini, tak cukup meredakan gundah di hatinya.

Dari matanya terlihat bayangan anak-istrinya di rumah, membuat dia tetap berusaha tegar, dan bertahan. Bising mesin kapal menderu yang menyulut resahnya, tak dapat menutupi gundah ketika memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar keluarganya.

Ya, Budi Kuswanto merupakan satu dari puluhan tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di Pelabuhan Taman Bunga Tanjungbalai Karimun, yang nasib dia dan keluarganya berada di tangah pembuat kebijakan di daerah ini.

Semenjak, kapal-kapal tidak lagi bersandar di pelabuhan bongkar muat tertua di kota ini pindah ke Parit Rempak (karena alasan yang tidak masuk akal baginya), kini nasib hidup dan penghipan dia, istri dan tiga anaknya, semakin tidak menentu saja.

Dari matanya terbaca, kebijakan pemimpin bijak negeri ini dapat membela ‘kampung tengah’ (sebutan urusan perut dalam istilah Melayu, red)-nya. “Semoga saja pemimpin daerah ini dapat melihat kondisi kritis kami ini,” tuturnya.

Dermaga Pelabuhan Bongkar Muat di Taman Bunga Tanjungbalai Karimun yang pernah ditabrak sebuah kapal kargo, beberapa waktu lalu, masih juga belum mendapat perhatian dari pihak terkait.

Dampaknya, ratusan pekerja yang bergantung kehidupannya dari aktivitas pelabuhan tersebut menjadi gambaran miris tentang sulitnya hidup. Semakin sedikitnya kapal yang melakukan bongkat muat di pelabuhan tersebut sebagai penyebabnya.

Dari data yang diperoleh dari perkumpulan TKBM (tenaga kerja bongkar muat) pelabuhan tersebut, jumlah pekerja aktif mencapai 76 orang. Jika ditotal dari data sebelumnya, mencapai lebih dari 100 orang.

Tak hanya pekerja bongkar muat, aktivitas pelabuhan ini juga melibatkan sopir angkutan lori yang tergabung dalam Koperasi Petak Jaya Sejahtera, mencapai 35 unit. Tentunya, sopirnya 35 orang ditambah dengan konnekturnya yang kurang lebih sama.

Parni, Ketua TKBM Pelabuhan Taman Bunga yang dijumpai Lendoot.com, Rabu (5/2/2025), mengatakan bahwa kondisi ini terjadi karena tidak banyak lagi kapal yang merapat di pelabuhan tersebut. Alasan stakeholder terkait, dermaga yang rusak tidak dapat lagi digunakan untuk bongkar muat.

“Kapal dengan GT (groos tonnage, red) besar, sudah tidak lagi merapat di sini, Semua dipindah ke Parit Rempak. Biasanya per bulan kami dapat 26 hari kerja, sekarang dalam sebulan hanya sekitar 3 sampai 5 hari saja,” jelas Parni.

Setiap bongkar muat, pekerja mendapatkan upah rata-rata di bawah Rp700 ribu. “Bayangkan bang, Rp700 ribu buat zaman sekarang dapat apa? Kalau setiap pekerja menghidupi tiga orang saja di rumahnya, bagaimana bisa mereka menghidup keluarganya,” tutur Parni.

Setali tiga uang dengan Zainal selaku Ketua Koperasi Petak Jaya Sejahtera sebagai penyedia jasa angkutan barang dari pelabuhan ke gudang pertokoan. “Sekarang ini, jangankan untuk hidup layak, dapat bertahan hidup saja sudah syukur. Apalagi biaya operasional kendaraan juga harus dipenuhi,” ungkap Zainal.

Budi Kuswanto, seorang TKBM di pelabuhan tersebut terlihat getir ketika menceritakan tentang kondisi ekonominya, pascadipindahkannya aktivitas bongkar muat kapal GT besar ke Parit Rempak tersebut.

“Saya anak tiga. Buat biaya ongkos anak sekolah sudah sulit kami dapatkan kalau kerja saya dalam sebulan cuma paling lama lima hari kerja saja,” ujar Budi yang kini bekerja serabutan selain menjadi buruh bongkar muat yang sebelumnya menjadi andalan penghasilan utama keluarganya tersebut.

Parni dan Zainal, sebagai wakil dari para pekerja dan sopir angkutan di pelabuhan menaruh harapan besar, ada perhatian dari para penguasa negeri ini terkait nasib mereka.

“Kami berharap ada langkah nyata dari para penguasa daerah ini. Dengarkan penderitaan kami yang menjadi rakyat mereka,” ungkap Parni yang diiyakan Zainal dengan nada getir.

Selanjutnya, keduanya berharap, satu dari tiga kapal berkapasitas 1000 GT yang pindah ke Parit Rempak, dapat dikembalikan melakukan bongkar muat di Taman Bunga kembali.

“Minimal saya kapal, yang 1040 GT itu bisa bersandar di sini lagi, itu kami sudah sangat bersyukur. Itulah harapan kami kepada para pembuat kebijakan, pak. Mohon ini mendapatkan perhatian lebih, pak. Sebab, ini menyangkut hajat hidup banyak warga kita, pak,” ungkap Parni dan Zainal kompak.

Mengenai kondisi Pelabuhan Taman Bunga yang disebut tidak mampu ditamatkan kapal bertonnase besar, keduanya menyatakan bahwa, di Parit Rempak sebenarnya juga tidak bisa dan terkesan dipaksakan.

“Dulu, sebelum ditabrak kapal itu, pelabuhan Parit Rempak juga tak bisa bongkar muat di sana. Dan, di sini ada ahli yang mengatakan masih bisa disandarkan kapal besar juga. Jadi kami mohon kebijakan itu ditinjau ulang,” ungkap Parni mengakhiri percakapan dengan lendoot.com. (msa)