Seorang pemuka adat sedang melakukan salah satu ritual prosesi Gantung-menggantung di rumah mempelai perempuan di Nongsa Batam. (istimewa btm.co)

Tradisi dan Budaya Melayu sangat banyak dan menarik untuk disimak. Meski terkadang banyak yang belum terlestarikan, namun Tradisi dan Budaya Melayu yang  sarat dengan ajaran Islam ini masih dipraktekkan di beberapa daerah.

Seperti Ssebagian Masyarakat Melayu yang mengenal namanya prosesi Menggantung-gantung. Ini sudah jarang digelar menjelang dua insan akan melangsungkan pernikahan.

Seperti yang masih diterapkan di Kampung Melayu, Batubesar, Nongsa, belum lama ini. Prosesi adat Menggantung-gantung digelar untuk kedua insan jelang pernikahannya.

Adalah kedua anak tokoh masyarakat Nongsa tersebut. Prosesi adat ini terutama digekar di kediaman calon mempelai wanita.

Dalam prosesi Menggantung-gantung anggota keluarga inti berkumpul di dalam rumah.

Selanjutnya perwakilan keluarga menyampaikan maksud dan tujuan keluarga pada tamu undangan yang hadir.

Ada prosesi tepuk tepung tawar di empat punjuru rumah oleh anggota keluarga. Kemudian ditutup oleh doa selamat yang dipimpin seorang pemuka agama atau ustadz setempat.

Dato H Muhammad Zen, tokoh adat yang memimpin prosesi Adat Melayu tersebut mengatakan prosesi adat ini memang sudah lama ditinggalkan. “Banyak yang tak mengetahuinya, padahal banyak nilai, makna, dan filosofi yang terkandung dalam prosesi adat tersebut,” jelasnya.

Dijelaskan Muhammad Zen yang merupakan pengurus LAM Batam tersebut, prosesi Menggantung-gantung sebagai tanda akan digelarnya hajatan atau suatu pernikahan.

Pada zaman Kesultanan disebut juga dengan meletak kerja. Dulu disimbolkan dengan menggantung tabir atau tirai.  Hal tersebut karena zaman dahulu rumah-rumah tak memiliki plafon. Selain itu dalam prosesi tersebut juga sekaligus menunjuk seseorang sebagai penanggung jawab utama acara atau Penghulu Balai.

“Dulu sebelum pasang tenda seperti sekarang ini dilakukan prosesi Menggantung-gantung ini,” jelas Muhammad Zen yang sehari-hari bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam tersebut seperti dikutip dari btm.co.

Dalam prosesi Menggantung-gantung juga dilakukan prosesi adat Tepuk Tepung Tawar, minimal di empat penjuru rumah. Prosesi ini memiliki makna penyucian pada tempat yang akan digunakan sebagai tempat hajatan.

“Yang melakukan Tepuk Tepung Tawar harus ganjil. Tadi empat orang dari keluarga dan satu dari tokoh agama sebagai penutup,” ungkapnya.

Usai prosesi Tepuk Tepung Tawar acara kemudian ditutup dengan doa selamat.

Usai prosesi Menggantung-gantung, sebelum akad nikah dan pesta pernikahan akan dilakukan juga doa Kenduri arwah, Adat Berandam, Adat Mandi Tolak Bala, Adat Malam Berinai, Pengajian Pasca Pernikahan, Akad Nikah, Resepsi Pernikahan, dan ditutup dengan Adat Mandi Sampat. (*/ddh)