Masjid Abdul Gani di Pulau Buru Kecamatan Buru Kabupaten Karimun. (dok lendoot)

Ketika menyebut kata Pulau Buru, Karimun sulit melepaskan dari nama Raja Abdul Gani bin Raja Idris.

Ialah cucu pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah. Dalam silsilahnya, Raja Idris memiliki empat putra, yakni Raja Basuk, Raja Abdul Rahman, Raja Ibrahim dan Raja Abdul Gani.

Putrinya ada tujuh, yakni Raja Fatimah, Raja Seni, Raja Halimah, Raja Khalijah, Raja Salamah, Raja Aisyah dan Raja Aminah. Raja Abdul Gani merupakan anak Raja Idris hasil perkawinannya dengan Raja Safiah binti Raja Ali.

Raja Abdul Gani menikah dengan Raja Habibah binti Raja Jafaar dan memiliki dua orang anak, yakni Raja Jakfar (Amir Pulau Buru II) dan Raja Perak.

Raja Jakfar memiliki tiga orang anak, yakni Raja Hafiza, Raja Ahmad dan Raja Rahmah. Sementara, saudaranya Raja Perak memiliki dua orang anak, Raja Idris dan Raja Latifa.

Raja Abdul Gani diangkat sebagai Amir Pulau Buru oleh YDM Riau VI yang juga pamannya, Raja Jaafar.

Namun, ia tak mengetahui secara pasti kapan tahun pengangkatan Raja Abdul Gani sebagai amir.

Demikian Dedi Arman, Peneliti Badan Inovasi Riset Nasional menyebutkan silsilah Raja Haji Fisabilillah hingga ke Raja Abdul Gani, dalam wawancara dengan lendoot.com, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Dedi menjelaskan tak ada kepastian waktu kapan ia diangkat. Selain itu juga tak ada informasi pasti kapan Raja Abdul Gani meninggal dan digantikan putranya, Raja Jakfar sebagai Amir Pulau Buru II.

Dalam buku Tanjungpinang, Land of Malay History disebutkan, pengangkatan Raja Abdul Gani sebagai amir bersamaan waktunya dengan pengangkatan Raja Abdullah sebagai Amir Karimun I.

Penunjukkan Amir Karimun dan Amir Pulau Buru tujuannya untuk menguasai kedua daerah itu jauh dari pengaruh Singapura yang diperintah Sultan Husein dibawah pengaruh Inggris.

Sementara, Riau Lingga dibawah kekuasan Sultan Abdurahman dengan Raja Jaafar sebagai Yang Dipertuan Muda Riau VI.

Pengangkatan kedua amir yang dilakukan YDM Riau VI Raja Jaafar besar kemungkinan sebelum Traktat London 1824.

Alasannya, Raja Jaafar meninggal dunia tahun 1832 dan Traktat London tahun 1824.

Sementara, Raja Abdul Gani sebagai Amir Pulau Buru membangun Klenteng Sam Po Teng tahun 1815 dan Masjid Raja Abdul Gani tahun 1823.

Keturunan Raja Abdul Gani berkembang dan beranak pinak di Pulau Buru.

Dari anaknya Raja Jakfar menurunkan tiga orang orang anak, yakni Raja Hafiza, Raja Ahmad dan Raja Rahmah. Raja Hafiza menikah dengan dua wanita yang masih turunan Bugis, yakni Raja Rokiah dan Raja Hasnah.

Dari perkawinan ini lahirlah delapan orang anak, yaitu RM Amin, Raja Syamsiah, Raja Fatimah, Raja Jakfar, Raja Roqayah, Raja Hamidah, Raja Zaleha dan Raja Zubaidah. Sementara Raja Ahmad (Putih) menikah dengan Raja Sakdiah dan melahirkan dua anak Raja Majebah dan Raja Pon.

Cucu Raja Abdul Gani yang lain, Raja Rahmah menikah dengan Abdul Hamid dan melahirkan enam anak, yakni Mahadi, Halimah, Hj Haliyah, Asiah, Kamsiah dan Rapeah.

Peninggalan Raja Abdul Gani di Pulau Buru yang bisa dilihat jejaknya hingga adalah Masjid Raja Abdul Gani dan Klenteng Sam Po Teng.

Hal menarik dari Masjid Raja Abdul Gani adalah arsitekturnya dipengaruhi oleh arsitektur China, terutama bagian menara.

Bentuk atap menyerupai pembakaran hio pada kelenteng Cina.Hal ini disebabkan masjid dibangun oleh arsiteknya orang Tionghoa.

Masjid Raja Haji Abdul Gani memiliki menara dengan ketinggian 11 Meter. Menara ini juga berfungsi sebagai mercu tanda bagi Pulau Buru dalam peta laut dan peta perlayaran Kepulauan Riau pada abad 19.

Saat menjabat Raja Abdul Gani juga mampu memimpin masyarakatnya dengan harmonis meski berbeda agama dan suku.

Salah satu buktinya adalah tak jauh dari Masjid Raja Abdul Gani, dibangun klenteng Sam Po Teng atau Bu Sua Teng.

Bangunan ini sampai sekarang masih kokoh berdiri. Kelenteng dibangun tahun 1815. Klenteng Vihara Cetiya Tri Dharma atau Kelenteng Bu Sua Teng dibangun oleh arsitek bernama Li Ceng Hiang.

Ia juga yang menjadi arsitek Masjid Raja Abdul Gani di Pulau Buru yang dibangun tahun 1823.

Lantai klenteng yang terbuat dari marmer sama sekali tidak pernah disentuh renovasi.

Bangunan utama hanya berukuran 10 m x 5m. Lantainya terbuat dari marmer, dengan genteng buatan Prancis bercap ‘Gichard Carvin and Cie, Marseille Standre’.

Genteng merek “Marseille St Andre France,” produksi Guichard Carvin & Cie, sebuah perusahaan Perancis yang konsen di usaha pembuatan ubin dan genteng sejak tahun 1800-an.

Literatur yang ada menyebut, perusahaan itu bahkan tidak hanya memproduksi genteng, ubin tetapi juga batu bata.

Produksinya, menyebar ke hampir seluruh kawasan Asia, bahkan sampai ke Australia.

Selain di Klenteng Bu Sua Teng, genteng produksi Perancis ini juga dijumpai di sejumlah wilayah di Kepulauan Riau.

Seperti bangunan-bangunan tua di Batam dan pulau-pulau sekitarnya, tetapi juga di Lingga dan Tanjungpinang. (*/msa)