Hingga Juni 2025, Ekspor Ikan Batam ke Singapura Capai 3.275 Ton

Kepala Dinas Perikanan Batam Yudi Admajianto. (ft mcbatam)

Batam – Potensi ekspor hasil perikanan Kota Batam terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, tercatat 5.414 ton ikan berhasil diekspor, terutama ke Singapura, dengan nilai transaksi mencapai Rp232 miliar.

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan ekspor dilakukan melalui pelabuhan resmi yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di antaranya Pelabuhan Tanjungriau dan Belakangpadang. Rata-rata volume ekspor setiap bulan berkisar 400–500 ton.

“Ekspor ini sudah melalui tahapan resmi, mulai dari karantina, bea cukai, hingga imigrasi dan sistem pelaporan terpadu. Aktivitasnya berlangsung setiap malam melalui pengepul dan agen di masing-masing pulau,” ujar Yudi.

Jenis ikan yang diekspor mayoritas merupakan ikan karang atau ikan dasaran seperti kerapu, unggar, kaci, dan dingkis. Jenis-jenis ini memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional dan harganya mengikuti kurs dolar Singapura. Hal itu membuat sebagian nelayan Batam memilih menjual hasil tangkapannya langsung ke negara tetangga.

Stok Ikan Lokal Terjaga, Ekspor Mendekati Target 2025

Untuk konsumsi lokal, ikan seperti benggol dan mata besar justru banyak dipasok dari perairan Natuna dan Anambas. Penangkapan biasanya dilakukan oleh kapal yang melaut selama 1 hingga 1,5 bulan.

Yudi memastikan stok ikan untuk pasar lokal aman. Saat ini Batam memiliki 14 cold storage yang terus dipantau pemerintah daerah. “Setiap bulan kami laporkan ketersediaan stok ke provinsi maupun pusat untuk menjaga kestabilan harga dan distribusi ikan di Batam,” katanya.

Tahun 2025, Pemko Batam menargetkan ekspor perikanan mencapai 6.000 ton dengan nilai sekitar Rp250 miliar. Hingga semester I (Januari–Juni), realisasi telah mencapai 3.275 ton atau 55 persen dari target, dengan nilai Rp129 miliar.

“Optimisme kami tinggi karena permintaan dari Singapura tetap stabil. Pemerintah juga terus memberikan pendampingan kepada nelayan Batam untuk meningkatkan produksi tangkap,” ujar Yudi.

Selain itu, Pemko Batam memberikan kemudahan akses rekomendasi pengambilan bahan bakar (BBM) bagi nelayan, guna menunjang operasional melaut mereka. (rst)