Nurdin Basirun saat menjabat Gubernur Kepri. (ist)

Bagi warga Kepulauan Riau umumnya, atau Kabupaten Karimun khususnya, nama Nurdin Basirun masih sangat familiar. Kemurahan hatinya sebagai kepala daerah terbilang masih sangat membekas di hati pencintanya.

Nurdin mendapat julukan sebagai Awang Bolu. Nama yang disematkan saat kelahirannya menjelang Idul Adha tahun 1957. Saat itu, bolu menjadi makanan khas menyambut hari besar Islam di Moro.

Bertepatan dengan itu, akhirnya si bayi yang lahir itu diberi julukan Awang Bolu. Nama Awang Bolu akhirnya melekat sejak kecil terhadap Nurdin.

Dr H Nurdin Basirun, S Sos, Msi terlahir pada 7 Juli 1957, di Pulau Moro. Dia  adalah Gubernur Kepulauan Riau yang menjabat sejak 25 Mei 2016 hingga 13 Juli 2019.

Sebelumnya, Nurdin Basirun pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Kepulauan Riau periode 12 Februari 2016 hingga 9 April 2016.

Nurdin pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Karimun, dan sebelum mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Kepri bersama HM Sani, Nurdin menjabat Bupati Karimun selama dua periode.

Dikutip dari wikipedia.org, riwayat Pendidikannya, Nurdin pernah mengenyam pendidikan di SD 6 Tanjung Balai Karimun (1964—1970), kemudian melanjutkan ke SMEP Tanjung Balai (1970—1973).

Sebelum melanjutkan ke MPT Kementerian Perhubungan (1980), Nurdin sempat bekerja sebagai ABK kapal, kemudian mendapat ijazah MPI dari Kementerian Perhubungan (1988).

Saat menjabat Bupati Karimun, Nurdin menyelesaikan pendidikan strata-1-nya di Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru (2002—2005). Kemudian menuntaskan pendidikan Strata 2-nya di Universitas Dr Soetomo, Surabaya (2005—2006). Pada (2006—2010), Nurdin menuntaskan pendidikan strata 3 di Universitas 17 Agustus, Surabaya dengan gelar doktor.

Saat menjabat Bupati Karimun, Nurdin juga pernah mengikuti Lemhanas RI (2007), International Seminary Guangdong University (2011), kemudian       Lemhanas RI lagi pada 2012 dan Executive Education Course on Transforming Leaders Harvard University (2013), serta Training Government Chicago University (2013).

Riwayat jabatan dan pekerjaan, Nurdin pernah menjabat Direktur Perusahaan Pelayaran Rakyat (2000). Kemudian menjadi Wakil Bupati Karimun (2001—2005), Bupati Karimun (2005—2006), Bupati Karimun (2006—2011), Bupati Karimun (2011—2015), Dosen Tetap Universitas Karimun (2011—2015), Wakil Gubernur Kepulauan Riau (2016), Gubernur Kepulauan Riau (2016—2019).

Riwayat organisasinya, Nurdin pernah menjabat  Ketua Umum KONI Karimun (2006—2016), Kamabicab Pramuka Karimun (2006—2016), Pelindung LKN Tingkat Kabupaten Karimun (2006—2016), Penasehat Organisasi Kemasyarakatan/Organisasi Profesi (2006—2016), Pembina Organisasi Kemasyarakatan/Organisasi Profesi (2006—2016), Dewan Penasihat Indonesia Karate Do Provinsi Kepulauan Riau (2013—2018) dan Dewan Pembinaan Atlet dan Umum Pengurus Pusat Indonesia Karate Do (2015—2020)

Tersandung Kasus Korupsi

Pada 10 Juli 2019, Nurdin terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kediamannya di Tanjungpinang.

KPK mengamankan Nurdin bersama lima orang lainnya dan dilakukan pemeriksaan di Jakarta pada keesokan harinya.

Pada 11 Juli, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Nurdin bersama tiga orang lainnya sebagai tersangka berkaitan dengan suap dan gratifikasi terkait izin reklamasi.

Dirinya kemudian ditahan di Rutan KPK dan dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Gubernur. (wikipedia.org)