Tudung Manto yang diperagakan model. (foto dinparsebud kota batam)

Lingga, Lendoot. com – Tudung Manto secara historisnya merupakan bagian dari Folklor non lisan, yakni adat istiadat yang diwariskan atau disebarluaskan secara turun temurun dalam bentuk pakaian tradisional.

Tudung Manto adalah kain yang biasa digunakan sebagai penutup kepala dan merupakan kelengkapan pakaian adat khususnya perempuan Melayu, khususnya bagi masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Nama Tudung Manto sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Lingga pada umumnya. Meski dibuat sejak tahun 1755, namun Tudung Manto masih eksis dan tetap diproduksi dan dipakai masyarakat Melayu Lingga hingga saat ini.

Beberapa waktu lalu, Kabupaten Lingga menerima sertifikat kekayaan intelektual komunal Tudung Manto dari Kementerian Hukum dan HAM.

Bahkan, Tudung Manto menjadi salah satu oleh-oleh atau cenderamata khas dari Kabupaten Lingga untuk kaum ibu-ibu yang berkunjung ke Negeri Bunda Tanah Melayu ini.

Pengrajin Tudung Manto, Firdaus Majid mengatakan, proses pembuatan Tudung Manto masih bersifat sambilan dan home industri, sehingga waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sehelai Tudung Manto akan memakan waktu satu hingga dua bulan.

“Namun, bila dikerjakan secara rutin dapat diselesaikan sekitar 2 mingguan,” kata Firdaus pada, Kamis (30/6/2022).

Dijelaskan Firdaus, untuk bahan yang digunakan yakni seperti kain sifon, kain sina dan kelingkan. Juga diperbantu dengan pembidang dan tali nilon untuk menegangkan kain-kain tersebut.

“Kalau untuk bahan sifon sendiri di Dabo sudah mulai ada cuman perbedaan halus dan kasarnya saja. Lalu dipasangkan dengan kelingkan warna silver sehingga gabungan warnanya jadi lebih bagus,” jelasnya.

Firdaus menuturkan, untuk motif Tudung Manto bermacam-macam, mulai dari tampol manggis, cermai, pucuk rebung, pucuk paku, semut beriring, bunga tanjung dan songket.

“Motif dari Tudung Manto ini bermacam-macam, yang pasti ada tampok manggis, cermai, pucuk rebung, pucuk paku, semut beriring, bunga tanjung dan songket,” ucapnya.

Firdaus berharap, Tudung Manto dapat laris tidak hanya di Kabupaten Lingga namun bisa keluar daerah.

“Kita berharap Tudong Manto laris di Kabupaten Lingga sehingga bisa dibawa ke mana-mana,” harapnya.

Sementara itu, Pengrajin lainnya Yanti mengatakan, bahwa ia tidak memiliki keahlian sama sekali dalam menjahit. Namun karena ada kesempatan mengikuti pelatihan Tudung Manto maka tidak ia sia-siakan.

“Saya tidak punya pengalaman menjahit, namun karena ada kesempatan, dan ini juga ilmu insyaallah akan saya teruskan membuat Tudung Manto ini,” tuturnya. (des)