Penulis: Raudatul Awalia, Mahasiswi Program Studi Sosiologi, Universitas Maritim raja Ali Haji.

Kekerasan adalah perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum dan menimbulkan bahaya bagi badan, nyawa, dan kemerdekaan orang, termasuk menjadikan orang pingsan atau tidak berdaya.

Fenomena kasus kekerasan dialami perempuan sudah menjadi berita yang sering terdengar dan terjadi di belahan dunia termasuk Indonesia.

Dalam suatu kasus teridentifikasi kekerasan yang diterima oleh perempuan hanya bermula dari permasalahan sepele, seperti contoh jika laki-laki atau suami sedang kesal terhadap orang lain atau rekan kerjanya, namun ia tidak bisa meluapkan  amarah tersebut kepada orang tersebut lantas malah meluapkan kekesalan dan amarahnya kepada si perempuan atau istrinya.

Tak dipungkiri lagi fenomena seperti ini memang dominan menjadikan perempuan sebagai korban kekerasan, adanya anggapan bahwa perempuan merupakan kaum yang lemah, feminisme, dan sering bergantung kepada laki-laki menyebabkan mereka sering mengalami ketidakadilan gender ini.

Dalam melihat fenomena kekerasan dalam rumah tangga yang menjadikan perempuan sebagai korban, tentu timbul pertanyaan mengapa hal tersebut terjadi?

Dalam perspektif sosisologi melalui teori konflik yang dikemukakan oleh Karl Marx bahwasanya ada pihak penguasa yang dipegang oleh kaum yang memiliki sumberdaya dalam hal ini borjuis dan adanya kaum yang dikuasai yakni proletar.

Jika kita tarik dan kita kaitkan fenomena tadi dengan teori ini bahwa laki-laki terkenal dengan maskulinitasnya, terkenal dengan kepemimpinannya, terkenal dengan kekuatannya, kuat dalam posisi sosial, dan lain sebagainya, sehingga dengan hal tersebut bisa membuat mereka tidak segan melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Lantas apa yang menjadi penyebab perempuan masih terus mengalami kekerasan dan masih banyak perempuan yang tidak berani bersuara?

Yang pertama konstruksi sosial. Adanya anggapan bahwa konflik dalam rumah tangga merupakan hal yang biasa terjadi, oleh sebab itu tidak perlu membesar-besarkan masalah tersebut, sehingga membuat wanita memilih untuk diam atas perlakuan kasar yang diterima.

Kedua ancaman. Adanya ancaman yang diberikan laki-laki kepada perempuan untuk tidak mengadu pada siapapu sudah tentu membuat perempuan tidak berani untuk bersuara.

Yang ketiga tidak adanya support dari orang terdekat dan lingkungan sosialnya. Dalam posisi terancam dan rasa takut yang dirasakan perempuan akibat kekerasan yang diterima sudah tentu mereka membutuhkan support orang terdekat dan lingkungan sosialnya untuk bersuara dan melaporkan kekerasan yang ia terima, namun terkadang rasa peduli dan peka terhadap lingkungan sudah mulai memudar .

Oleh karena itu tugas kita sebagai makhluk sosial hendaknya lebih peduli dan peka terhadap lingkungan sosial, barangkali ada satu diantara mereka yang mengalami kasus yang sama dan butuh support dari kita untuk membantu mereka dalam mengatasi permsalahannya.

Akhir kata sejatinya hubungan suami dan istri merupakan hubungan dua makhluk hidup yang ingin mencurahkan kasih sayang melalui ikatan perkahwinan, bukan hubungan majikan dan pembantu, dan bukan pula hubungan antara tuan dan budak, oleh karena itu pentingnya menjaga dan saling menghargai pasangan masing-masing. (*)