Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Bercerita tentang masa lalu, terasa kurang lengkap jika saya belum bercerita tentang kuliner yang fenonemal yang pernah ada di Karimun.
Disebut pernah ada, sebab saat ini, beberapa spot kuliner yang akan saya sajina dalam tulisan ini, hanya tinggal sejarah, sudah hilang digilas waktu dan zaman.
Digilas waktu karena ini berkaitan dengan tempat berjualannya dan orang yang menjual, maupun produk kuliner yang dijual juga, kini sudah tak ada lagi.
Yang mau asya ceritakan sekarang adalah orang yang menjual dan kuliner jualannya telah lama tutup dan tidak berjualan lagi padahal pada zamannya.
BACA JUGA!
Yang saya tulis adalah aneka kuliner yang pada era 60-an dan 70-an sangat pupuler dan diminati banyak orang. Untuk mengenangnya, maka saya ingin mengajak pembaca lendoot dengan kilas balik cerita dan kenangan kuliner masa lalu tersebut.
1. MIE SIAM PAK SATAM
Tempat Jualan di Rumah Jalan Nusantara dan jualan dari Pagi sampai siang saja.
Kalau disebut Mie Siam Pak Satam orang lama pasti tau bagaimana rasanya yang khas, kuah dan udangnya sungguh suatu racikan bumbu yang sempurna dan untuk kuliner sejenis Mie Siam di Karimun belum ada tandingannya pada saat itu.
Selain Mie Siamnya yang mantap, ada satu lagi temannya yaitu Cendol. Tak lengkap rasnaya jika kita makan Mie Siam Pak Satam jika tidak berserta dengan cendol yang dijualnya.
Tapi sayang Almarhum Pak Satam tidak ada generasi yang meneruskan usaha kulinernya.
2. RUJAK MAK JAH
Tempat Jualan Jalan Trikora, kalau sekarang pasnya diseberang Hotel Paragon , jualan hanya di siang hari.
Kalau soal rujak saat itu memang tidak ada tandingannya , jualan hanya digelar dan duduk dipinggir jalan namun peminatnya cukup ramai , apa lagi anak sekolah.
Adonan bumbu kacang dan petisnya membuat cita rasa cukup nikmat untuk ukuran rujak biasa.
Mak Jah orangnya supel dan peramah membuat orang senang meskipun kadang kala harus mengantri untuk membeli.
Namun sepertinya Mak Jak tidak punya gererasi untuk meneruskan usaha kulinernya itu , hingga tutup seiring berjalannya masa.
3. PUTU PIRING LEK SARKUM
Tempat jualan Pasar Malam seberang Kedai Kopi Mesir , berjualan dari sore hingga malam.
Siapa yang tak kenal dengan putu piring Lek Sarkum , yang langsung dimasak di tempat jualannya.
Ciri khas pembeli adalah mengantri sebab membuat Putu Miring tidak cepat dan mudah apalagi biasanya pembeli mau yang hangat ,tidak mau yang sudah dingin ,karena jika sudah dingin rasanya akan beda dengan yang hangat.
Tempat tinggal Lek Sarkum di Bukit Senang , cukup jauh dari tempat jualannya , namun setiap hari on time hadir di tempat biasa ia berjualan.
Lek Sarkum pun sama tidak punya generasi untuk meneruskan usaha kulinernya , dan tinggal kenangan Lek Sarkum yang punya ciri khas bercanda ketika melayani pembelinya.
4. SATE PAK ABBAS
Tempat Jualan saat itu di Depan Studio Warna Jln.Nusantara . waktu jualan pada malam hari.
Kenapa Pak Abbas ini kita pilih untuk jadikan cerita kita dari penjual sate lainnya , karena kuliner satenya yang paling jadul sebab Pak Abbas adalah generasi kedua yang diwariskan dari orang tuanya yang sebelumnya berjualan sejak tahun 50an dengan cara memikul jualannya.
Pada Era Pak Abbas beliau sudah menggunakan gerobak , namun cukup jauh rumahnya saat itu , rumahnya dipinggir jalan di Sungai Lakam kolong sekarang pasnya sekitar Show Room Mobil sebeleh kiri jika dari Balai mau ke Meral.
Cita rasa satenya enak dan sangat mengena dilidah , namun sayang juga tidak ada generasi penerusnya.
5. SOTONG PANGKONG
Tempat Jualan di Pasar Malam sekarang tempat jualan Es Gunung , berjualan dari sore sampai malam
Dari empat kuliner sebelumnya ,kuliner ini yang paling fenomenal , karena dari pembuatannya , cara makan , serta mumbu sambalnya.
Kenapa dinamakan Sotong Pangkong karena cara membuatnya , sotong dibakar kemudian di pangkong pakai palu kayu hingga tekstur daging sotongnya lembut , dan kemudian makannya dicecah dengan sambal yg rasanya cukup khas rasa pedas ditambah rasa nenas dan kacang , serta cara makannya duduk di bangku kecil dan rendah berderetan dimeja jualan yang relative sempit.
Dan pilihannya bukan sotong saja namun ada Ikan Lome sebagai pilihan lainnya dengan cara buat dan sambal yang sama.Dan yang berjualan ini adalah orang2 Tionghoa yang tinggal disekitar tempat jualan.
Namun sayang saat ini kita tidak pernah ketemu lagi di Karimun orang yang berjualan Sotong Pangkong.
Dan lagi-lagi tidak ada penerus untuk kuliner Sotong Pangkong ini , akhirnya semua hanya tinggal cerita indah untuk dikenang. (*)




