UNFORGETTABLE! Kumpulan Kisah Karimun Tempo Dulu: Perang Tak Surutkan Tekad Anak Karimun ke Sekolah (4/Bersambung)

Foto anak-anak Karimun saat menuju ke sekolah. (ft dok pribadi)

Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Raja Iliyas. (ft dok pribadi)
Raja Iliyas. (ft dok pribadi)

Bicara tentang satuan angkatan waktu itu bermacam satuan yang ada, kita bisa melihat pada tanda lambang yang mereka pakai, mereka pada garis besarnya terdapat dua kelompok satuan.

Satuan yang pertama adalah kolompok sukarelawan yang didatangkan dari satuan Angkatan Darat sesuai dari daerah mana ia didatangkan. Sebagai contoh Sukarelawan Siliwangi berasal dari Jawa Barat, Bukit Barisan dari Sumatera Utara , Diponegoro dari Jawa Tengah.

Ada juga pasukan elit dari Angkatan Darat, atau RPKAD. Dan, kelompok kedua adalah kolompok Angkatan Laut yang diperbantukan (BKO) seperti KKO (sekarang Marinir), KOWARSA, KOPASKA, BASIS dan lainnya

Mereka dilengkapi dengan senjata masing-masing dan untuk pasukan Sukarelawan pada umumnya mereka memakai senapan jenis LE . Yang paling keren dan modern waktu itu adalah jenis senjata yang dipakai RPKAD, yaitu jenis AK.

Barisan tentara yang dipersiapkan berperang saat konfrontasi-Malaysia-Indonesia, kala itu. (ft dok pribadi-1
Barisan tentara yang dipersiapkan berperang saat konfrontasi-Malaysia-Indonesia, kala itu. (ft dok pribadi-1

Untuk senjata meriam penangkis serangan udara ditempatkan di beberapa posisi, yaitu diantaranya lokasi di atas bukit kuburan Cina Bukit Tiung di Komplek Perumahan BC Teluk Air.

Di Meral juga ada dan beberapa tempat lainnya yang setiap saat siaga untuk melepaskan tembakannya. Biasanya di waktu malam dan selalu ada tembakan yang diiringi dengan mati lampu di setiap rumah.

Bagi anak-anak di zaman itu, meskipun keadaannya demikian namun kegiatan ke sekolah tetap berlangsung seperti biasa. Sebagai contoh sekolah SR 2 (sekarang SD 2) di Bukit Senang yang kepala sekolahnya Alm Raja Kona dan guru-gurunya seperti Alm Pak Zainal Usman, Ibu Katidjah,  Almarhumah Darmi Chaizir Zen, Ibu Aidar, Pak Tahir dan lainnya.

Anak-anak yang paling handal saat itu berasal dari Belakang Tangsi (BBC), Baran dan Kampung Tanjung.

Seragam anak SR ketika itu bajunya putih dan celana warna krim atau cream American Drill, sepatu putih.

Cara mencucinya dicelup pakai blaw supaya baju putihnya kelihatan bersih dan kemudian dicelupkan kanji supaya teksturnya tegang ketika diseterika. Waktu dipakai side baju dan celananya jadi terlihat modis atau keren.

Sedangkan, sepatunya setiap seminggu sekali dicuci serta disapukan kapur sepatu agar sepatu tetap berwarna putih, dan supaya selalu kelihatan putih bersih.

Waktu pertama masuk SR 2 Bukit Senang, alat tulis saya masih memakai papan grid yang ditulis memakai alat tulisnya yang khas. Bisa dihapus seperti papan tulis layaknya, ukurannya sekitar 30 cm x 40 cm.

Meja duduk sekolahnya cantik yang tak pernah kita jumpai modelnya di zaman ini. Yakni satu meja yang lumayan panjang, meja duduknya untuk dua orang bisa dibuka untuk menaruh alat tulis kemudian diberi lobang di tengah depan meja untuk menaruh tinta untuk kegunaan pelajaran menulis tulisan halus kasar yang alat tulisnya pakai celup.

Semua alat tulis batu Grid dan lainnya diberikan secara gratis ketika itu tidak ada uang SPP dan pembayaran lainnya.

Anak sekolah zaman itu rajin dan gigih meskipun menempuh jarak yang jauh ke sekolah. Bahkan sebagian besar  harus ditempuh dengan berjalan kaki, karena zaman itu anak-anak yang ke sekolah dengan kenderaan boleh dihitung dengan jari.

Sebagai contoh anak-anak Sungai Lakam, Lubuk Semut, dan Teluk Air mereka pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.

Pulang sekolah tidak sendirian, biasa kalau sudah terkumpul beberapa orang baru pulang secara bersama-sama, khususnya anak-anak yang rumahnya relatif jauh. Misalnya saja, teman-teman dari Lubuk Semut yang cukup jauh berjalan kaki dengan suasana melalui keadaan yang masih semak-semak dan kebun getah melewati seranggong dan pohon-pohon kemunting, namun semuanya membawa hikmah rata-rata anak Lubuk Semut pintar-pintar mungkin karena efek dari perjuangannya pergi ke sekolah.

Anak-anak yang pulang ke Sungai Lakam juga lumayan jauh hingga tidak jarang sebelum sampai di rumah, mereka menceburkan diri dulu untuk mandi di Sungai untuk menghilangkan penat perjalanan pulang dari sekolah. (**/bersambung)