Rudi Saputra, Ketua Umum PC PMII Kabupaten Karimun Periode 2019-2021. (ist)

Kabar kurang menyenangkan kembali terdengar di belahan timur Indonesia, tepat pukul 10.30 WITA terjadi ledakan bom yang menyasar para jemaah Gereja Katedral Makassar.

Pelaku bom bunuh diri berjumlah dua orang itu melakukan aksinya bertepatan dengan perayaan Minggu Palma bagi Umat Katolik di sana.

Kejadian ini menjadi sinyal bahwa teroris masih ada, dan akan terus menunjukkan eksistensinya dengan menebarkan ketakutan kepada masyarakat.

Melihat ini kita sebagai warga dituntut untuk tidak takut dan selalu waspada dengan segala potensi ancaman yang ada. Memang, Karimun sendiri bukanlah daerah yang rawan konflik dari aksi-aksi terorisme, namun kita sejatinya tetap jaga diri, dan jaga keluarga dari ideology menyimpang tersebut.

Kejahatan kemanusiaan seperti ini harus senantiasa jadi pantauan kita bersama. Selain kepolisian kita sebagai masyarakat, pemuda dan seluruh elemen lainnya dapat memeranginya melalui gagasan pemikiran. Praktisnya membantu menetralisir doktrin yang dianggap sebagaian orang sebagai jalan kebenaran mereka.

Selain itu, persoalaan regenerasi merupakan bagian terpenting dari eksistensi kelompok teroris. Rekruitmen terus dilakukan mereka untuk menjadi martir dengan berbagai cara. Ini tentu menjadi pekerjaan utama bagi seluruh instansi terkait yang menangangi isu teroris dalam memutuskan rantai radikalisme di generasi mereka.

Paling mudah yang dilakukan mereka dalam mencari anggota baru adalah propaganda melalui dunia maya. Dengan bebasnya internet yang mudah diakses oleh kawula muda tentunya ini potensi yang membahayakan. Jika tidak difilter akan menumbuhkan bibit-bibit baru dari anak bangsa yang tumbuh dengan doktrin ideology ekstrem tersebut.

Dan, peranan aparat keamanan hari ini belum begitu optimal, jika beberapa elemen masyarakat tidak diajak menghadapi paham radikal ini, khususnya di level anak muda khususnya pelajar.
Tentu ini harus ada kerjasama seluruh komponen masyarakat termasuk tingkat kewaspadaan bela lingkungan terhadap bahaya terorisme yang lebih terukur dan teruji.

Sekolah dan kampus yang dijadikan laboratorium pengetahuan kerap kali menjadi sasaran utama dibanding wilayah lain. Penanganannya harus dielaborasi melalui pendekatan-pendekatan baru dan tidak monoton. Mengikuti tren kekinian, serta mudah diterima pelajar-pelajar kita.

Salah satunya dapat mengaktifkan organisasi badan otonom Nahdatul Ulama (NU) ditingkat pelajar putra dan putri di Kabupaten Karimun. Yakni IPNU dan IPPNU sebagai backup kepolisian dan motor penggerak untuk melawan pemikiran para penganut pemikiran radikalisme.

Mengharapkan OSIS saja tidak cukup, secara kelembagaan mereka bertanggung jawab terhadap sekolah terkait kegiatan yang dilakukan. Kegiatan keorganisasian lebih sering diisi oleh pihak internal, jarang melibatkan pihak luar. Sementara kebutuhan organisasi dalam dinamika lajunya zaman, begitu tinggi.

Harapan kita sederhana saja, jangan sampai ada generasi muda di Indonesia khususnya para pelajar di Kabupaten Karimun masuk dalam jaringan atau kelompok teroris. Apapun motivasinya seluruh bertopeng agama. Agama tidak membenarkan saling membunuh dengan cara-cara yang keji. (*)

Penulis: Rudi Saputra, Ketua Umum PC PMII Kabupaten Karimun Periode 2019-2021.