Museum Raja Ali Haji Gambarkan Sejarah Kota Batam dari Zaman ke Zaman

Batam, Lendoot.com – Anda  ingin mengetahui perkembangan Kota Batam dari zaman ke zaman? Museum Raja Ali Haji di Dataran Engku Putri, Batam Center, Kepulaun Riau bisa memberikan jawabannya.

Selain tempat belajar, museum ini juga dijadikan sebagai destinasi wisata Kota Batam bisa menjadi inspirasi banyak orang.

Kota Batam membuat terobosan baru yang bisa membuat wisatawan bertambah destinasi wisatanya. Ada ide-ide destinasi dan atraksi baru yang disuguhkan untuk semua kalangan.

Museum ini salah satunya yang dapat memanjakan wisatawan yang berkunjung ke Kota Batam. Pengalaman mengesankan akan didapat mereka yang berkunjung ke Batam.

Selain wisata alam, wisata belanja, dan religi, wisatawan juga bisa menikmati nuansa sejarah melalui museum di Batam itu. Destinasi ini tentu sangat menginspirasi, sebab wisatawan bisa mengenal nilai sejarah.

Museum Raja Ali Haji Batam didesain dengan konsep Budaya melayu. Lokasinya di dataran engku putri, yang cukup strategis.

Museum ini sudah terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dengan nomor registrasi 21.71.u.05.200 dengan member basis data milik direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman.

(Tampak depan Museum Raja Ali Haji Kota Batam)

Museum Raja Ali Haji terinspirasi dari nama pahlawan melayu asal Kepulauan Riau Raja Ali Haji. Dipilih berdasarkan hasil kajian dan masukan tim serta sudah melalui pembahasan bersama Lembaga Adat Melayu (LAM).

Koleksi di museum wisata sejarah ini beragam macam dan tentu saja banyak sekali nilai sejarahnya.

Pertama kali tiba anda akan melihat sebuah lempengan besar mirip daun sirih, inilah yang disebut cogan.

Cogan adalah salah satu alat kebesaran atau regalia yang dimiliki kerajaan Johor Riau Lingga Pahang, yang saat ini wilayahnya mencakup Kepulauan Riau, Riau, Jambi sampai ke Malaysia dan Singapura.

Cogan merupkan sebuah tombak simbol kebesaran kerajaan yang diwarisi hingga tahun 1913 sebelum keruntuhannya oleh Belanda di masa kesultanan Sultan Abdul Rahman Syah.

Pada kedua belah bagian sisi cogan terdapat ukiran tulisan timbul dalam lambang huruf arab menggunakan bahasa melayu atau arab melayu.

Kemudian ada Bangkeng, yang menjadi wadah penyimpanan baju pengantin melayu. Umurnya diperkirakan mencapai ratusan tahun.

Selain itu, ada koleksi berupa peralatan rumah tangga yang terbuat dari kuningan, guci peninggalan dinasti, meriam peninggalan jaman Belanda.

Ada juga Keto sebagai tempat membuang sisa makan sirih, sebagai alasnya tepak sirih yang dilengkapi dengan puan.

“Museum Raja Ali Haji memiliki keunikan sendiri. Bukan hanya benda bersejarah saja, namun foto hingga peradaban melayu bisa anda lihat disini,” kata Kabid Kebudayaan Disbudpar Batam, Mohd Zen.

Menurut kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam Ardiwinata, Museum Raja Ali Haji Batam menjadi magnet baru untuk menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Nuansa sejarah melayu sangat selaras dengan pasar utama Batam seperti Malaysia dan Singapura.

“Museum ini menampilkan sejarah peradaban Batam dari masa ke masa, sejak era kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, Otorita Batam kepemimpinan Bj Habibie, kota administrative, masuk sejarah astaka khazanah melayu hingga kini,” jelas Ardi.

Bagi pengunjung yang masuk ke museum Raja Ali Haji ini tidak dipungut biaya apapun alias gratis. (ddh)