Kuasa Hukum AL, Muhammad Udik Sugianto SH didampingi Kuasa Hukum lainnya, Junaidi Syahputra SH dan Anggra Satria Sitindaon SH saat melayangkan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Karimun, siang tadi. (ist)

Karimun, Lendoot.com – Upaya mencari keadilan karena merasa diperlakukan tidak adil dalam proses penetapan tersangka dilakukan AL, tersangka dugaan kasus penipuan.

Merasa dikriminalisasi, AL melalui kuasa hukumnya, Muhammad Udik Sugianto SH melayangkan gugatan praperadilan Satreskrim Polres Karimun ke Pengadilan Negeri Tanjungbalai Karimun, Kepulauan Riau.

Permohonan itu telah teregistrasi nomor 2/PID/PRA/2020 di Pengadilan Negeri Karimun, Selasa (27/10/2020) siang tadi. M Udik Sugianto SH didampingi Kuasa Hukum lainnya, Junaidi Syahputra SH, Aggra Satria Sitindaon SH dan Deasy Trihartanti SH saat melayangkan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Karimun tersebut.

Alasan praperadilankan Satreskrim Polres Karimun karena alasan keterlibatan kliennya dalam kasus tersebut dinilai janggal, dan terkesan dipaksakan.

“Klien kami ditetapkan sebagai tersangka tanpa adanya penyelidikan, oleh karena itu akan kita uji. Apa pun hasilnya nanti akan kita hormati,” ujar Udik kepada Lendoot.com, Selasa (27/10/2020).

Udik menyebut, kejanggalan lain yang ditemukan yakni kliennya sempat disekap selama 12 jam di sebuah hotel oleh pihak tertentu hingga akhirnya dibawa menuju Polres Karimun.

“Sebelum dibawa ke Polres, klien kami itu disekap 12 jam dengan alasan berdamai. Itu dari jam 10 pagi hari Sabtu tanggal 3, sampai jam 10 malamnya. Setelah itu klien kami langsung dibawa ke Polres, kemudian diinterogasi oleh Kasat Reskrim. Setelah itu langsung dilakukan penyidikan pada pukul 00.30 WIB sampai 04.30 dini hari,” jelasnya.

Yang terlihat kejanggalan lainnya, dalam jangka waktu yang singkat, lanjutnya, kliennya itu sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penipuan.

“Surat penetapan tersangkanya itu diberikan pihak keluarga waktu mengunjunginya di situ (Polres), tetapi ketika perpanjangan habis tanggal 24 tersebut tidak berikan, akhirnya ditanggal 25 kami datang ke Polres menanyakan apakah ada perpanjangan tersebut.”

“Ternyata ada, di situ diperpanjang Kejaksaan Negeri Karimun tanggal 20, tetapi kenapa tidak diberitahukan ke kita? Di pemberitahuan terlambat, kami menolak BAP. Yang jadi masalah setelah kami menolak BAP anggota Satreskrim Polres Karimun ada yang datang ke tetangga tersangka dan meminta menyerahkan kepada keluarga tersangka,” tambahnya.

Kasus ini bermula pada saat tersangka dihubungi oleh salah seorang rekannya sesama anggota BC yang mengkonfirmasi bahwa AL tengah dicari oleh sejumlah orang terkait dugaan penipuan. Merasa tidak melakukan hal itu, AL kemudian mendatangi sebuah hotel tempat sejumlah orang yang sedang mencarinya untuk memberikan klarifikasi.

“Pada mulanya jam 10 sampai jam 12 itu masih aman-aman aja. Mediasi seperti biasa, akan tetapi setelah jam 12 ke atas isinya penekan dan ancaman. Meski pun tidak ada kekerasan fisik tapi ada kekerasan verbal di sana. Klien kami dipaksa untuk membayar Rp320 juta, tapi AL menolak,” katanya.

Pada 26 September 2020 lalu saat berada di Batam, jelasnya, AL dikenalkan rekannya DR kepada ALD yang mengaku sebagai petugas bea cukai pusat. AL kemudian diminta untuk membantu ALD jika berkunjung ke Karimun.

“Pada hari Jumat pada tanggal 3 itu dari pihak ALD menelpon. Intinya pemberitahuan kepada AL bahwa ALD akan ke Karimun, dan minta dijemput. Lalu AL menjembutnya, tapi AL kaget karena ada 6 orang di dalamnya. Padahal rencanaya cuma ALD saja,” jelasnya.

Mereka kemudian meminta untuk diantarkan menuju Kanwil BC dengan alasan hendak menebus handphone. Mengingat ALD yang diketahui merupakan petugas BC pusat, AL tetap tidak menaruh curiga.

“Ya sudah diantar, ke pos Gurita kemudian AL bertanya emang ada ya. Di tunjuk salah satu kapal di tengah laut, karena merasa orang BC pusat biasa kan lebih tau. Masuk mobil lagi, sepertinya di belakang ada orang seperti transaksi. AL tidak tahu itu transaksi tentang apa sebenarnya itu,” paparnya.

Setelah itu, ALD meminta AL untuk menghantarkannya menuju Tanjungbatu menggunakan boat pancung. Setelah tiba di pelantar di Tanjungbatu, Ald meminjam HP AL karena alasan HP=nya dalam kondisi mati atau baterai low.

“Di situ HP klien saya dibuang. AL kaget. Kenapa HP klien saya dibuang? Lalu ALD berjanji akan membelikannya yang baru. Diganti katanya, tapi AL sudah mulai tak enak hati, AL sudah bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya. Dan betul memang diganti. ALD katanya mau lanjut ke Tembilahan, AL pergi sebentar ALD sudah tidak ada di tempat. Dicari info siapa ini ALD, rupanya di pegawai BC yang sudah dipecat dua  tahun lalu,” ungkapnya.

Dengan rentetan kronologi itu, Udik menyatakan kliennya adalah korban. Justeru sosok  ALD yang seharusnya bertanggungjawab atas permasalahan ini  tidak pernah dilakukan penyelidikan.

“Yang saya paparkan dalam pengajuan gugatan ini berdasarkan keterangan klien kami. AL ia menerangkan dari awal sampai dibawa di Polres Karimun seperti adanya,” tutupnya. (msa)