Mengenang Kedai Kopi Legendaris di Kota Karimun, Kedai Kopi AILAM CEME sekarang Kedai Natal (4)

Beberapa warga saat menikmati kopi di Kedai Kopi Ailam Ceme Kota Karimun. (ft dok pribadi)

Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Dalam tulisan ini, Saya ingin menampilkan cerita tentang Kadai Kopi Karimun Tempo Dulu. Salah satunya adalah Kedai Kopi AILAM CEME.

Bagi yang belum tau tentang dimana Kedai Kopi Ailam Ceme, saya terangkan bahwa kedai kopinya sekarang telah berobah namanya menjadi Kedai Kopi Natal di pertigaan Jalan Nusantara dan Hang Lekir.

Dan barangkali sekarang pastilah banyak yang tau dimana Kedai Kopi Natal tersebut.

Yang menarik tentang Kedai Kopi ini adalah dari mana asal nama kedai kopi Ailam Ceme.

Cerita bermula ketika zaman dulu khususnya di Karimun yaitu tentang etnis Tionghoa.

Etnis Tionghoa ini terdiri berbagai suku diantara suku sukunya adalah seperti Suku Ailam , suku Ho Kien, Suku Ho Cia, Suku Kek, dan Suku Tiochiu.

Biasanya suku-suku tersebut punya tradisi bidang keahlian masing masing , mungkin memang dibawa dari negeri leluhurnya. Contohnya Suku Ailam di bidang Kuliner khususnya Kedai Kopi, Suku Ho Kien dan Ho Cia sebagai nelayan, Suku Kek sebagai Ttukang, dan Suku Tiochiu sebagai pedagang toko atau kedai.

Kembali lagi ke cerita Kedai Kopi Ailam Ceme, kenapa dipanggil nama kedai kopinya demikian? Karena yang punya kedai kopi tersebut adalah orang Ailam dan kebetulan beliau punya cacat sebelah matanya. Dalam bahasa Tionghoa cacat mata dalam bahasa Tionghoa adalah Ceme.

Dan entah siapa yang pertama sekali menamakan dan memanggil Kedai Kopi tersebut dengan panggilan yang demikian kitapun tidak tahu. Yang pasti sejak kita masih anak-anak di zaman itu orang memanggil dengan Kedai Kopi Ailam Ceme.

Sampai dengan suatu ketika generasi berikutnya mengganti nama dengan Kedai Kopi Natal sampai dengan sekarang.

Bagi kami anak anak sekolah SR (Sekolah Rakyat) atau SD saat ini ada paling khas yaitu kedai kopi Ailam Ceme tersebut juga menjual es kepal yang diparut pakai parutan es tangan dengan inti kacang merah dan diberikan air gula warna warni.

Harganya saat itu hanya 5 cent dan 10 cent karena waktu itu di Karimun masih bertransaksi dengan Dollar Singapura.

Tak lupa di Kedai Kopi ini terpajang minuman yang sangat keren saat itu, yaitu minuman bersoda dalam botol kaca yaitu Limonade dan Green Spot. Ini adalah minuman bergengsi saat itu.

Seingat saya, anak perempuan Ailam Ceme menikah dengan Pastor Warga Negara Belanda.

Dan sekarang seuai dengan perkembangan zaman, kedai kopi ini telah berkembang kelihatannya cukup ramai dan kulinernyapun makin bervariasi dan lebih lengkap lagi. (****/bersambung)