Jakarta – Bagi Anda yang berisiko risiko tinggi dalam serangan jantung, bisa menyimak kabar ini. Kementerian Kesehatan meluncurkan program FASTEMI (Farmako Invasif Strategi Tatalaksana ST Elevation Myocardial Infarction/STEMI).
Program FASTEMI ini untuk membantu masyarakat dengan yang Berisko Tinggi Serangan Jantung. Hanya saja, saat ini, program tersebut masih dalam tahap uji coba di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Pimpinan Pilot Project Program FASTEMI dr. Isman Firdaus, Sp.JP(K), FIHA, FESC, FSCAI menjelaskan program ini bertujuan mempersiapkan dan memberikan pertolongan bagi pasien yang mengalami serangan jantung tipe STEMI.
Dr Isman menjelaskan serangan jantung tipe STEMI terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah arteri koroner secara total sehingga otot jantung tidak mendapatkan suplai oksigen.
“STEMI merupakan jenis sindrom koroner akut yang memiliki risiko komplikasi serius dan kematian,” kata dr Isman melalui keterangan resminya, Minggu (14/7/2024).
Menurutnya, pertolongan serangan jantung STEMI selama ini hanya bisa dilakukan di provinsi dan kota besar dengan membuka pembuluh darah yang tersumbat total.
Prosesnya, pasien dengan keluhan nyeri dada dan angina akan melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Kemudian ketika hasil diagnosa positif serangan jantung STEMI langsung ditangani dengan catheterization laboratory (cath lab).
Penanganan cath lab untuk dilakukan kateterisasi jantung yang bertujuan membuka sumbatan pembuluh darah jantung. Cara ini hanya dapat dilakukan di ibu kota provinsi atau kota besar di rumah sakit rujukan provinsi atau rumah sakit swasta.
“Adanya inisiatif program FASTEMI ditujukan sebagai upaya pertolongan pertama pasien yang mengalami serangan jantung tipe STEMI di daerah terpencil, daerah-daerah yang jauh dari kota besar,” kata dr Isman.
Kalau di kota besar, lanjutnya ada cath lab untuk penanganan serangan jantung. Bagi daerah yang tidak punya cath lab dan dokter jantung, pasien dengan serangan jantung tersebut bisa ditolong dengan tata laksana FASTEMI.
Yaitu menggunakan obat-obatan penghancur bekuan darah. Program ini, kata dr. Isman termasuk terobosan untuk pasien serangan jantung STEMI.
Artinya, penatalaksanaan pertolongan pertama serangan jantung tipe STEMI tidak dengan cath lab atau kateterisasi maupun pemasangan ring, melainkan dengan pemberian obat-obatan penghancur bekuan darah yang disebut fibrinolitik atau trombolitik.
dr Isman mengatakan obat-obatan fibrinolitik akan disiapkan di puskesmas atau rumah sakit yang tidak ada fasilitas cath lab sehingga apabila ada pasien serangan jantung STEMI bisa langsung disuntik.
“Obat ini hanya disuntik, salah satu jenis yang dipilih, yaitu tenecteplase yang sekali suntik saja. Rencananya, obat ini akan disalurkan ke puskesmas-puskesmas seluruh Indonesia,” kata dr. Isman.
Kendati demikian, lanjutnya mengingat ini adalah pilot project pertama, maka hanya puskesmas-puskesmas terpilih dari masing-masing kabupaten/kota dulu yang dipilih untuk uji coba. Tidak langsung semuanya uji coba karena menunggu kesiapan obat-obatan. (*/rsd)
Artikel ini telah tayang di infopublik.id berjudul FASTEMI, Terobosan Pertolongan Pertama Serangan Jantung




