Dekat Selat Malaka dan Banyak Pulau Kecil, Pulau Buru Jadi Persembunyian Para Lanun (Berburu Sejarah Pulau Buru-Bagian 2)

Pusat Meteorologi Maritim BMKG memberikan peringatan tersebut kepada masyarakat yang berada di Batam, Bintan, Tanjung Pinang, Karimun, dan Lingga, Kamis (15/6/2023). Hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat dan petir serta angin kencang diprediksi terjadi pada pukul 07.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Sementara cuaca di beberapa perairan di Kepri diprediksi berlangsung hujan sedang. Sementara itu, kecepatan angin diperkirakan mencapai dua hingga 15 knots dengan arah angin dominan dari tenggara hingga barat daya.

Kawasan Selat Melaka dan Laut Cina Selatan terdapat ratusan selat-selat kecil yang secara alamiah adalah pemicu atau pendorong untuk munculnya para bajak laut (lanun).

Karimun dan pulau pulau sekitarnya dipandang sebagai daerah yang sangat berbahaya dan ditakuti oleh setiap pelayar dan pedagang yang akan melintasi ujung selatan Selat Malaka.

Hal ini dikarenakan hampir disepanjang Pulau Karimun dan jajaran pulau-pulau di sekitarnya, seperti Pulau Buru dijadikan basis operasional.

Dari hasil wawancara eksklusif dengan Dedi Arman, Peneliti Badan Inovasi Riset Nasional terekam bahwa Fa-Hsieu (seorang pengelana Cina) pernah mencatat bahwa aktivitas bajak laut ini sudah pernah berlangsung sejak abad ke 4 M di Pulau Buru.

Tao-I Chih (juga seorang pengelana China) yang pernah mengunjungi daerah Kepulauan Riau pada tahun 1330 – 1340 kembali memperkuat hal ini yang menyatakan daerah Chi ke Wan (Karimun) menjadi daerah basis bajak laut yang memiliki pasukan berjumlah cukup besar yaitu terdiri dari 200 – 300 pasukan.

Dalam perkembangan selanjutnya para lanun laut ini yang sebagian besar merupakan penduduk asli Suku Laut yang berasal dari Pulau Karimun dan pulau-pulau sekitarnya, menduduki wilayah Kerajaan Tumasik (berpusat di Selat Tumasek, Singapura sekarang) yang ditinggalkan oleh Raja Parameswara yang mengungsi ke Muar akibat penyerangan Kerajaan Majapahit.

Lanun laut dari Pulau Buru pada masa Kesultanan Riau Lingga tercatat dalam buku tulisan tentara Inggris.

Walaupun dipandang negatif oleh kebanyakan orang Eropa, menurut Captain Artilerry Inggris, Peter James Begbie, Kerajaan Johor ketika itu (yang kemudian dikenal juga sebagai kerajaan LinggaRiau) cukup lama menikmati dan diuntungkan oleh aktifitas lanun dan rakyat lautnya.

Sejumlah pulau, seperti Temiang (Tamiang), Galang, Mepar (Mappa), Buru (Booroo), Sekanak (Sakana), Terong (Trong), Pekaka, Soongei dan lain-lain, lebih eksklusif dikhususkan untuk aktifitas pembajakan di laut (piracy), ketimbang yang lain.

Orang Lanum (lanun), bukan rakyat Kerajaan Johor (yang ketika itu beribu kota di Daik- Lingga), dan pada dasarnya adalah bangsa bajak laut (lanun).

Walaupun demikian hasil jarahan mereka tidak menodai orang Johor dengan kekejaman yang terkutuk.

Lanun pusatnya di Karimun, Buru dan pulau-pulau sekitarnya karena didukung kondisi letak daerah yang dekat dengan Selat Melaka.

Dedi Arman, Peneliti Badan Inovasi Riset Nasional. (dok lendoot)

Daerah ini juga dengan Singapura dan Malaysia (masa kini). Pulau Buru juga aman untuk bersembunyi karena banyak selat dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya.

Lanun di Pulau Buru berhubungan dengan lanun di wilayah lain yang ada di Kepulauan Riau.

Lanun di Pulau Buru ada karena dukungan dari Amir Pulau Buru, Raja Abdul Gani. Aksi lanun juga didukung pihak kerajaan.

Terbukti adanya dukungan dari Raja Haji Abdurrahman. Orang ini adalah kakak kandung Raja Abdul Gani, keduanya anak Raja Idris, cucu Raja Haji Fisabilillah.

Raja Haji Abdurrahman beraksi di Perairan Galang dan juga perairan Riau lainnya. Dua bersaudara itu melawan Belanda dengan cara aksi gerilya lanun.

Bedanya, Raja Haji Abdurrahman tak meninggalkan bekas-bekas atau peninggalan selama menjalankan aksi gerilya laut di Galang.

Sementara, Raja Haji Abdul Gani menjadi amir di Pulau Buru dan banyak meninggalkan bangunan selama berkuasa di Pulau Buru.

Keberadaan lanun dari Pulau Buru, Karimun juga terlihat dalam konflik Selangor antara Raja Ismail dan Raja Mahdi terkaitsengketa tambang di Klang.

Raja Ismail merekrut 60 lanun laut dari Pulau Buru dan beberapa orang dari wilayah Riau lainnya.

Dalam menghadapi Raja Mahdi, Raja Ismail juga meminta bantuan teman ayahnya, Baba Teek Yee dari Malaka.

Ia mempersiapkan menyerang Raja Mahdi setelah kematian ayahnya tahun 1869 M.

Meski pernah sebagai salah satu pusat lanun, jejak lanun di Pulau Buru tak ada bekas atau sisa-sisa peninggalannya.

Cerita Pulau Buru sebagai pusat lanun di tengah masyarakat Pulau Buru hanya dapat diketahui dari cerita mulut ke mulut.

Masyarakat Pulau Buru malah lebih hafal dan familiar dengan cerita makam-makam yang ada di Buru, seperti badang perkasa dan moyang seraga. (*)