Marah menurut ilmu kejiwaan (psikologi) merupakan gejolak emosi yang diungkapkan dengan perbuatan atau ekspresi untuk memperoleh kepuasan.
Ada sebagian orang menganggap bahwa dengan marah, dirinya tampak lebih berwibawa. Tentu saja anggapan ini keliru. Umumnya pemarah justru menyebabkan orang-orang di sekitarnya menjauh, takut disakiti.
Banyak dampak buruk ditimbulkan dari sifat si pemarah. Marah bisa menimbulkan saling membenci, memutus tali silaturahim, permusuhan, dan tercerabutnya keberkahan rezeki.
Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala memberi apresiasi kepada orang yang selalu menahan amarah dan selalu memberi maaf sebagaimana firman-Nya QS Ali Imran ayat 134:
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Dikutip dari uninus.ac.id, ada dua solusi pengobatan agar terhindar dari sifat pemarah.
Pertama, dengan cara mencegah, yakni kita harus ingat dampak dari marah adalah kerusakan, karenanya kita harus memiliki jiwa penyabar dan selalu menahan amarah.
Kedua, dengan cara menghilangkan, yakni kita harus bisa tahu diri, selalu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar terhindar godaan setan, kemudian dilanjut dengan mandi atau berwudhu. (**/rsd)




