Cegah Siswa Keracunan Makanan, Alat Uji Sanitasi Dapur ini Jadi Kunci Sukses Program MBG di Natuna

Petugas menyiapkan paket MBG) di dapur Seskoal, Cipulir, Jakarta, belum lama ini. (ft antara)

Natuna – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk anak-anak sekolah dinilai akan lebih efektif jika disertai dengan jaminan kebersihan dapur dan keamanan proses pengolahan makanan.

Salah satu langkah penting yang kini mulai disorot adalah penggunaan alat uji sanitasi dapur atau hygiene test kit. Alat ini menjadi garda terdepan dalam mendeteksi kebersihan area pengolahan dan penyajian makanan yang berisiko menjadi sumber kontaminasi bakteri atau jamur penyebab keracunan.

“Sanitasi dapur itu bukan sekadar bersih secara kasat mata. Kita butuh alat uji cepat dan akurat untuk memastikan permukaan tidak terkontaminasi mikroorganisme berbahaya,” ujar Amelia Eka Frimasari, AMKL, Sanitarian Terampil dari Puskesmas Ranai, kemarin.

Kabupaten Natuna tourism Anak-anak Lebih Rentan, Deteksi Dini Jadi Wajib Amelia mengingatkan bahwa anak-anak sekolah memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, sehingga lebih mudah terdampak oleh bakteri seperti Salmonella, E coli, maupun jamur penghasil mikotoksin.

“Makanan bergizi tak akan berarti kalau dapurnya tidak higienis. Kasus keracunan di sekolah seringkali berawal dari dapur yang luput dari pengawasan,” katanya.

Untuk itu, dibutuhkan perangkat pengujian sanitasi yang cepat, akurat, dan mudah digunakan langsung oleh petugas dapur tanpa memerlukan keahlian khusus. Alat ini bekerja dengan mendeteksi tingkat kebersihan permukaan seperti meja masak, alat potong, dan peralatan makan sebelum digunakan.

“Cukup dalam hitungan menit, kita bisa tahu apakah permukaan aman digunakan atau harus dibersihkan ulang. Ini sangat penting dalam kegiatan penyediaan makanan massal seperti MBG,” tegasnya.

Penjamah Wajib Terlatih dan Sehat Lebih jauh, Amelia juga menekankan pentingnya standar kelayakan tenaga dapur. Setiap penjamah makanan di dapur MBG minimal sudah pernah mengikuti pelatihan tentang penjamah makanan.

 “Dalam pelatihan itu diajarkan enam prinsip HSM (Hygiene dan Sanitasi Makanan), cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), dan praktik memasak yang aman,” jelasnya.

Tak kalah penting, pemeriksaan kesehatan bagi penjamah makanan harus dilakukan minimal satu kali dalam setahun. Hal ini untuk memastikan bahwa tenaga dapur tidak menjadi sumber penularan penyakit.

Amelia mengingatkan bahwa dapur penyedia MBG, sudah termasuk kategori dapur besar setara jasa boga karena melayani lebih dari 100 porsi per hari. Maka, penerapan standar sanitasi dan pengawasan harus lebih ketat.

“Ini bukan dapur kecil. Porsinya besar, sehingga tingkat risiko juga besar. Harus ada pengawasan yang sistematis dan profesional,” tegasnya.

Pengawasan Internal dan Eksternal Wajib Jalan Bersama Menurutnya, penggunaan alat uji sanitasi harus menjadi bagian dari pengawasan internal yang dilakukan rutin setiap hari oleh penanggung jawab (PJ) dapur.

Hanya saja, hal itu juga harus diperkuat dengan pengawasan eksternal melalui pemeriksaan laboratorium di Labkesmas minimal setiap enam bulan atau satu tahun sekali. “Tidak cukup hanya uji petik. Harus ada inspeksi kesehatan lingkungan secara berkala untuk menjamin kelayakan semua aspek dapur,” ujar Amelia.

Kunci Sukses Program Nasional Pengawasan ketat terhadap kebersihan dapur dan tempat penyajian makanan bukan sekadar rutinitas, tetapi faktor penentu keberhasilan program makanan gratis nasional. Jika terjadi keracunan makanan, bukan hanya kesehatan anak yang terancam, tapi juga kepercayaan masyarakat terhadap program.

“Satu kasus keracunan bisa mengguncang kepercayaan publik. Karena itu, alat uji sanitasi, pelatihan penjamah, dan pengawasan ketat harus dijadikan standar baku,” tutupnya. (dan)