BMKG Prediksi Potensi Cuaca Ekstrem Terjadi hingga Pertengahan Januari 2023

Bagi Anda yang ingin menikmati liburan pergantian tahun perlu meningkatkan kewaspadaannya. Sebab, diperkirakan cuaca awal tahun kurang bersahabat.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada akhir 2022 ini hingga awal tahun ini akan ada potensi terjadinya cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem itu berupa hujan lebat, tingginya kecepatan angin, dan meningkatnya ketinggian gelombang air laut.

Peringatan itu merupakan kelanjutan dari peringatan yang pernah dikeluarkan BMKG sejak pertengahan Desember 2022 lalu. “Kami mendeteksi minimal ada empat fenomena di atmosfer,” kata Kepala BMKG Dwikoria Karnawati di Jakarta, seperti dikuti dari infopublik.id, Rabu (25/1/2023).

Empat fenomena atmosfer yang dimaksud Dwikora itu yakni, aktivitas Monsun Asia, seruakan dingin Asia, pembentukan pusat tekanan rendah di wilayah perairan selatan Indonesia, termasuk Madden Julian Oscillation (MJO).

MJO adalah pergerakan awan-awan hujan di Samudera Hindia yang melintasi ekuator Samudera Hindia dari arah timur Afrika menuju ke Samudera Pasifik menyeberangi kepulauan Indonesia.

Keempat fenomena itu, kembali terdeteksi penambahan fenomena atmosfer lainnya. Sejak akhir omendeteksi ada penambahan satu fenomena baru lagi yang tentunya berpengaruh pada dinamika cuaca di Indonesia,” jelasnya.

Satu fenomena itu, menurut Dwikoria, itu adalah kemunculan bibit siklon tropis 95W yang berada di Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat, tepatnya di 8,8 derajat LU – 130,9 BT. Siklon tropis itu punya kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan terendah 1.008 milibar.

Pencitraan satelit Himawari menunjukkan adanya aktivitas konvektif yang signifikan selama enam jam terakhir, terutama di sebelah utara sistem bibit siklon tersebut.

“Model prediksi numerik menunjukkan bahwa sistem ini bergerak ke arah barat laut menjauhi wilayah Indonesia,” ujar Dwikorita.

Hanya saja, kemunculan fenomena itu hingga tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah dan semakin menjauhi Indonesia.

Menurut Dwikorita, masih ada indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia yang dapat memicu terbentuknya pola pertemuan dan perlambatan angin di sekitar Indonesia bagian selatan.

Fenomena tersebut turut menyebabkan pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di wilayah Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Selain hujan lebat, menurut Dwikoria, aktivitas MJO juga perlu mendapat perhatian. Fenomena itu bergerak dari arah barat ke tengah dan timur sehingga berdampak pada bertambahnya awan-awan hujan.

Selain itu, MJO disertai dengan gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial sehingga pertumbuhan awan hujan di Indonesia juga masih berpotensi ekstrem hingga awal bulan ini.

Peringatan BMKG itu menjadi catatan bagi kita agar tetap dan terus waspada, apalagi yang menempuh perjalanan laut. (*/msa)