Basarnas Masuk 6 Besar Asia Pasifik Versi ICAO 2025, Bukti Kualitas SAR Indonesia Diakui Dunia

Natuna – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di tingkat internasional.

Berdasarkan laporan Safety Audit International Civil Aviation Organization (ICAO) tahun 2025, Basarnas Indonesia berhasil menempati peringkat ke-6 terbaik di kawasan Asia Pasifik dengan skor impresif 95 persen untuk kategori kesiapsiagaan dan kapabilitas operasi SAR.

Capaian ini menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam layanan pencarian dan pertolongan seperti Korea Selatan, Selandia Baru, dan India.

Penilaian ICAO meliputi berbagai aspek krusial, mulai dari regulasi, koordinasi lintas sektor, kecepatan respons, kompetensi personel, hingga kelengkapan peralatan SAR.

Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja kolektif seluruh jajaran Basarnas dari pusat hingga unit siaga di wilayah terluar Indonesia.

“Skor 95 persen dari ICAO bukan sekadar angka. Ini adalah validasi bahwa sistem SAR Indonesia telah memenuhi standar internasional, sekaligus menjadi amanah untuk terus menjaga profesionalitas dan kecepatan respons, terutama di wilayah kepulauan yang kompleks seperti Natuna,” ujarnya.

Keberadaan Basarnas tidak terlepas dari mandat internasional yang diatur dalam Annex 12 Chicago Convention serta Konvensi SAR 1979. Sebagai anggota ICAO dan International Maritime Organization (IMO), Indonesia wajib memiliki otoritas SAR nasional yang mampu menangani kondisi darurat secara mandiri di wilayah tanggung jawabnya.

Dalam praktiknya, operasi Basarnas mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari penanganan kecelakaan penerbangan seperti pesawat jatuh atau hilang kontak, kecelakaan pelayaran seperti kapal tenggelam, hingga respons terhadap bencana alam dan kondisi membahayakan manusia seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, serta evakuasi korban di medan ekstrem seperti gunung dan jurang.

“Prinsip kami adalah quick response. Satu detik sangat berarti bagi nyawa. Karena itu seluruh personel dituntut memahami panduan IAMSAR, terampil mengoperasikan alutsista, dan mampu menganalisis situasi di bawah tekanan,” tegas Abdul Rahman.

Di tingkat nasional, Basarnas juga mencatat tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Survei internal tahun 2025 menunjukkan sebanyak 89 persen responden merasa puas terhadap kecepatan dan profesionalitas layanan Basarnas dalam berbagai operasi SAR.

Namun demikian, tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menjadi ujian tersendiri. Wilayah kerja Basarnas mencakup sekitar 3,25 juta km² perairan dan 1,9 juta km² daratan.

“Di Natuna, kami menghadapi cuaca ekstrem, jarak antarpulau yang jauh, serta keterbatasan infrastruktur. Karena itu, sinergi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat nelayan menjadi kunci keberhasilan operasi,” tambahnya.

Pengakuan dari ICAO ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sistem SAR nasional, baik melalui modernisasi peralatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, maupun edukasi keselamatan kepada masyarakat luas.

“Pencarian dan pertolongan bukan hanya tugas Basarnas. Budaya sadar keselamatan harus dimulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas. Karena setiap nyawa yang terselamatkan adalah keberhasilan bersama,” tutup Abdul Rahman.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) merupakan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang bertugas melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014. Saat ini, Basarnas memiliki 45 Kantor SAR dan sekitar 154 Unit Siaga SAR yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. (Rap)