Jakarta – Upaya Indonesia menuju generasi bebas stunting memasuki babak baru. Melalui aplikasi VERVAL 2025, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kini semakin serius memperkuat data keluarga berisiko stunting (KRS) dengan pendekatan digital yang lebih canggih dan menyeluruh.
Teknologi bukan hanya soal kecepatan, tapi juga akurasi. Itulah semangat yang diusung Kemendukbangga saat memperkenalkan versi terbaru aplikasi VERVAL dalam Workshop Verifikasi dan Validasi (Verval) Data Keluarga Berisiko Stunting 2025, Kamis (12/6/2025), di Jakarta.
“Aplikasi ini memungkinkan pengumpulan dan pelaporan data secara real-time, lengkap dengan fitur GPS dan dokumentasi foto. Ini sangat penting untuk memastikan setiap data yang masuk benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan,” ujar Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendukbangga- BKKBN, Faharudin.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 memang memberi angin segar: prevalensi stunting nasional menurun menjadi 19,8 persen dari 21,5 persen tahun sebelumnya. Namun, di balik angka itu, masih ada lebih dari 4,48 juta balita yang mengalami stunting. “Artinya, meski sudah di bawah batas WHO, pekerjaan rumah kita masih sangat besar,” ungkap Faharudin.
Menurutnya, yang juga harus menjadi perhatian adalah ketimpangan antarwilayah. Nusa Tenggara Timur dan Papua masih mencatat prevalensi di atas 30 persen, sementara Bali dan Jawa Timur telah berhasil menurunkan hingga di bawah 15 persen. Bahkan, beberapa kabupaten/kota masih mencatat angka di atas 40 persen.
Di sinilah peran data akurat menjadi sangat krusial. Proses verval KRS 2025 bukan sekadar mencocokkan data administratif, tapi menyentuh langsung kehidupan warga. Petugas lapangan ditugaskan untuk mengunjungi rumah warga, melakukan wawancara, mengamati kondisi sanitasi, dan memperbarui data keluarga yang pindah atau tidak ditemukan.
Pencegahan dari Hulu: Filosofi di Balik KRS
Konsep Keluarga Berisiko Stunting yang dikembangkan BKKBN tak hanya bicara soal penanganan. Lebih dari itu, ini adalah pendekatan pencegahan sejak hulu, mendeteksi potensi risiko seperti kemiskinan, sanitasi buruk, gizi kurang, dan rendahnya pendidikan orang tua. “Bahkan dalam draft Perpres terbaru, pendekatan ini telah diakui secara resmi. Ini bentuk penghargaan terhadap upaya pencegahan berbasis keluarga,” jelas Faharudin.
Meski aplikasi VERVAL 2025 membawa kemudahan digital, Faharudin mengingatkan bahwa prinsip kerja lapangan tetap tak tergantikan. Semua pengisian data harus dilakukan secara tatap muka langsung, bukan dari jarak jauh. “Data tidak bisa dipalsukan. Wajah dan kondisi nyata keluarga harus dilihat langsung. Segala kendala teknis hendaknya disampaikan melalui helpdesk resmi, bukan lewat media sosial, demi menjaga integritas proses,” tambahnya.
Kegiatan verval nasional akan dimulai pada 16 Juni 2025, yang akan dimulai dengan 20.000 keluarga sasaran. Sisanya akan dilakukan secara bertahap hingga 30 September 2025.
Lebih dari sekadar teknologi, VERVAL 2025 adalah simbol semangat gotong royong dalam pembangunan manusia Indonesia. “Mari kita jaga semangat kolaborasi ini. Data yang valid akan melahirkan kebijakan yang tepat sasaran. Dan itu akan membawa lebih dekat pada generasi Indonesia yang sehat dan bebas stunting,” tutup Faharudin. (*/rsd)
Artikel ini telah tayang di infopublik.id berjudul Kemendukbangga Perkuat Data Keluarga Berisiko Stunting lewat Verval 2025




