Ilustrasi PSK atau tuna susila. (istimewa)

Penulis: Meildia Stefanie, Mahasiswa jurusan Sosiologi angkatan 2019, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Sejak Maret tahun 2020, terhitung sudah setahun lamanya pandemi Covid-19 menyerang berbagai sendi kehidupan manusia. Berbagai dampak yang ditimbulkannya terhadap semua aspek kehidupan.

Tak terkecuali tuna susila atau penjaja seks komersial (PSK) juga terkena dampaknya. Pastinya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka tergerus dengan sulitnya kondisi saat ini. Sebenarnya, apa itu tuna susila?

Tuna susila adalah seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis secara berulang-ulang dan bergantian di luar perkawinan yang sah dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.

Banyaknya kontak fisik yang dilakukan dalam pekerjaan tuna susila ini membawa dampak bagi mereka pada masa pandemi covid-19, karena semua orang takut akan penularan Covid-19 begitu juga dengan pelanggan-pelanggan mereka, serta adanya kebijakan pemerintah menutup tempat-tempat tejadinya pelacuran, seperti hotel, rumah bordil, club, dan sebagainya.

Dikutip dari BBC News mengenai pekerja seks bertahan hidup dalam pandemi, tidak adanya pekerjaan membuat tuna susila melakukan berbagai alternatif untuk bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. Yaitu, dengan melakukan bisnis makanan, melakukan pengajuan bantuan dana kepada pemerintah terhadap tuna susila, mereka juga berkontibusi menjadi bagian dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial, dan ada juga yang membuka dapur makanan atau warung makanan di bawah naungan LSM.

Nah, bagaimana sosiologi dalam memandang fenomena tersebut ?

Talcott Parsons seorang ahli sosiologi dengan salah-satu pemikirannya yang terkenal adalah AGIL. Apa sebenarnya AGIL itu ? AGIL merupakan singkatan dari adaptation (adaptasi), goal attainment (pencapaian tujuan), integration (integrasi/persatuan), dan latten patern maintenance ( pemeliharaan).

Ini diartikan sebagai fungsi untuk menjalankan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan sistem. Sistem yang dimaksud adalah sistem sosial ekonomi pada masa pandemi covid-19 dengan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.

Tuna susila sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang fungsi sosialnya itu tidak berjalan seperti yang dilakukan masyarakat umumnya. Pandemi covid-19 membuat tuna susila tersebut menjadi individu yang berperan dalam memperbaiki masalah kesejahteraan sosial yang dihadapi oleh dirinya sendiri agar kehidupan sosial menjadi harmonis.

Melalui AGIL, tuna susila bisa menjadi masyarakat yang berfungsi. Pertama dengan adaptation, tuna susila beradaptasi dalam kondisi pandemi yang memungkinkan mereka meninggalkan pekerjaan lama dengan pekerjaan yang baru yang lebih positif dan diterima oleh masyarakat.

Kedua dengan goal attainment, tuna susila bertahan hidup dalam pandemi covid-19 karena tujuan utamanya adalah terpenuhinya kebutuhan hidup mereka, yaitu dengan berjualan, berkontribusi dalam kegiatan sosial, membuka dapur makanan, dan kegiatan positif lainnya. Ketiga dengan integration, yaitu tuna susila berbaur dan bersatu dengan masyarakat lainnya, seperti mereka bergabung dan bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Keempat dengan latten patern maintenance, diharapkan dengan hilangnya covid-19 nanti, tuna susila tersebut tetap bertahan dengan pekerjaan mereka yang sekarang agar mereka menjadi individu yang lebik baik, bermanfaat bagi orang lain, dan menciptakan keharmonisan di dalam sistem sosial masyarakat.

Pesan yang dapat penulis sampaikan adalah dengan adanya pandemi covid-19 ini terlepas dari perubahan yang ditimbulkannya, ternyata membawa perubahan yang positif bagi sistem sosial di masyarakat.

Terkhususnya pada tuna susila yang menjadikan mereka bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat, bergabung dalam komunitas sosial merupakan langkah yang besar bagi mereka yang sebenarnya mereka itu membutuhkan pelayanan sosial.

Penulis sangat berharap mereka (tuna susila) tersebut dapat mempertahankan kebiasaannya yang sekarang agar kehidupan sosial mereka dapat berjalan lancar dan menjadi harmonis. (*)

 

penulis : Meildia Stefanie

Alamat  : Komplek Timah, Karimun

Jurusan : Sosiologi, semester 4

Instansi : Universitas Maritim Raja Ali Haji

Organisasi : Himpunan Mahasiswa Tanjung Balai Karimun (HMTBK) dan  Komunitas Genbi (Generasi Baru Indonesia) Bank Indonesia. (*)