ilustrasi perceraian. Foto indeksberita.com

Karimun, Lendoot.com – Sepanjang tahun 2020, Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Karimun catat sebanyak 427 perkara perceraian terjadi.

Wakil Kepala Pengadilan Agama Kabupaten Karimun M Andri Irawan mengatakan, pasangan suami istri (pasutri) di Kabupaten Karimun yang akhirnya memutuskan bercerai selama masa pandemi Covid-19 tahun 2020.

Andri mengajukan permohonan gugatan perceraian itu banyak diajukan pihak istri. Dominan Masalah ekonomi sebagai faktor penyebabnya. Akibat ekonomi masyarakat yang tidak stabil, bahkan turun drastis membuat keutuhan rumah tangga terkoyak.

“Sepanjang tahun 2020 kemarin, perkara perceraian merupakan perkara yang paling banyak kami tangani sepanjang tahun 2020. Pihak istri yang paling dominan yang mengajukan permohonan gugatan cerai,” ujar Wakil Ketua PA Karimun M Andri Irawan.

Ia menjelaskan, faktor ekonomi atau tidak terpenuhinya nafkah menjadi faktor dominan penyebab banyaknya permohonan gugatan cerai, dengan proporsi menvapai 70 persen.

Selain faktor ekonomi, adanya ngangguan orang ketiga dan perilaku perilaku tercela juga mendominasi.

“Dominan itu faktor tidak terpenuhi nafkah, mencapai sekitar 70 persen. Faktor perilaku lainnya yang tercela seperti mabuk-mabukan dan gangguan orang ketiga,” kata Andri.

Ia mengatakan, tidak menutup kemungkinan perceraian dipicu faktor ekonomi tersebut imbas dari pandemi Covid-19.

“Mungkin sedikit-banyak ada korelasinya dengan pandemi Covid-19. Yang dulunya bekerja, produktif sejak pandemi jadi kurang produktif secara ekonomi. Dulunya bekerja sekarang tidak, banyak di rumah, yang berdagang jualannya kurang untung karena daya beli masyarakat turun,” katanya.

Sementara itu, Ia menjelaskan tahun 2019 jumlah angka perceraian mencapai 511 perkara perceraian dan persentasenya menurun.

“Dari 511 perkara tahun 2019 itu, sebanyak 445 perkara dikabulkan atau putus cerai.Selain kasus perceraian, PA Karimun sepanjang tahun 2020 juga sembunyikan cerai talak sebanyak 128 perkara,” katanya. (rko)