40 Persen Calon Siswa PPDB Online di Kota Batam Ditolak, Berikut ini Solusinya

Batam, Lendoot.com – Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengakui masih ada sekiar 30 sampai 40 persen siswa yang masuk SMP melalui Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online di Kota Batam, yang tidak diterima atau ditolak.

“Saya akan menyelesaikan PPDB tingkat SMP ini. Sebab sekitar 30 hingga 40 persen yang mendaftar melalui online tak diterima,” kata Rudi.

Hal ini, katanya, karena daya tampung sekolah negeri terbatas. Sementara itu, disamping menyadari keinginan wali murid untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, Rudi juga mendorong wali murid yang mampu agar beralih ke sekolah swasta.

Hanya saja bagi yang tidak mampu akan dicarikan solusinya dengan menambah daya tampung di sekolah negeri dengan melakukan pembelajaran double shif.

“Ini agar seluruh calon siswa bisa mengenyam pendidikan. Prinsipnya, saya memastikan pihaknya menjadi garda terdepan memberi perhatian bagi pendidikan anak-anak Batam,” ujarnya.

 Untuk mencarikan solusi tersebut, Rudi sebelumnya menyambangi sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kota Batam saat PPDB kemarin. Kunjungan tersebut dalam rangka bertemu dengan para wali calon murid untuk mendengarkan dan mencari solusinya.

Rudi bersilaturahmi dengan para wali calon murid di sekolah SMP N 4 Batam juga SMP N 42 Batam yang juga digabung dengan hadirnya para wali calon murid SMP N 6 Batam, SMP N 28 Batam dan SMP N 52 Batam.

Target Presiden Joko Widodo dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045. Menuju era tersebut, pada tahun 2030 dan 2035 Indonesia akan mengalami bonus demografi yakni akan didominasi usia produktif.

“Anak-anak Indonesia, Batam khususnya, harus hebat semua karena mereka akan memimpin negeri ini, kalau begitu adanya maka semua wajib sekolah, supaya wajib sekolah kita ambil kebijakan tampung semua,” kata Rudi.

Ia berharap, generasi penerus bangsa terus berkembang dan berdaya saing di masa akan datang. Sembari itu, pihaknya juga terus berupaya membangun Batam. Bukan rahasia lagi pembangunan kian masif. (ddh)