UNFORGETTABLE! Kumpulan Kisah-kisah Karimun Tempo Dulu: Konfrontasi dengan Malaysia, Kami Terpaksa Makan Bulgur (2/Bersambung)

Foto rumah panggung Karimun Tempo dulu. (ft dok wak lis)

Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Masih teringat saya dengan sungai yang lebar dapat dimasuki perahu-perahu yang datang membawa dagangan seperti sagu, kelapa, pisang dan lain lain. Perahu-perahu itu langsung masuk ketika air pasang sampai ke jambatan untuk membongkar muatannya.

Sungai merupakan anugerah untuk masyarakat sekitar untuk berbagai kebutuhannya. Dan tidak heran jika anak-anak Sungai Lakam rata rata semua pandai berenang ketika itu.

Sungai ini menjadi saksi transaksi perdagangan antarduawilayah. Karimun dengan Singapura kala itu.

Saat itu masih zaman dolar istilah orang kampung, semua serba murah, kehidupan masyarakat makmur, barang-barang kebutuhan harian dan lainnya semua bebas datang dari Singapura.

Gaji pegawai dan karyawan dibayar dengan dolar dan cukup untuk kebutuhan bulanan. Petani dan nelayan hidup berkecukupan. Sungguh suatu masa yang sepertinya takkan terulang lagi.

Masa kegemilangan itu berakhir ketika Indonesia menyatakan konfrontasi dengan Malaysia. Hubungan diplomatik dengan Malaysia terputus.

Singapura yang saat itu masih merupakan bagian dari Malaysia, berimbas hubungan perdagangan antara Karimun dengan Singapura.

Hal tersebut sangat berimbas dengan kehidupan ekonomi masyarakat setempat, khususnya Masyarakat Karimun. Barang kebutuhan harian sangat sulit didapat karena sebelumnya semua mudah didatangkan dari Singapura.

Armada Bea Cukai yang tertambat di perairan Karimun, tempo dulu. (ft dok pribadi)

Saking sulit mendapatkan beras, masyarakat Karimun saat itu hanya dapat mengkosumsi beras Bulgur, padahal di Amerika itu merupakan makanan kuda.

Dan, kalaupun dapat itu tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, karena barang yang masuk merupakan barang yang dimasukkan secara ilegal atau istilahnya smuggle dari Singapura, saat itu.

Seiring dengan datangnya pasukan Sukarerawan dari Jawa dan Sumatera dan satuan-satuan tentara lainnya yang semua itu didatangkan untuk menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Pamplet dan teriakan Ganyang Malaysia merupakan hal yang hampir setiap hari saya lihat.

Dentuman meriam di malam hari untuk mengantisipasi pesawat musuh adalah hal yang biasa kami dengar. Masyarakat yang harus mematikan lampu jika terdengar bunyi tembakan dan dentuman meriam tersebut. (**/bersambung)