Tradisi Lampu Colok: Cahaya Identitas dan Spirit Gotong Royong Masyarakat Melayu

Karimun, Lendoot.com – Festival atau lomba lampu hias eid mubarak 1444 H Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) telah selesai digelar. Para juri juga telah melaksanakan tugasnya melakukan penilaian. Banyak para peserta festival yang terdiri dari dua kategori lomba; yakni lampu colok dan elektrik mempertanyakan jadwal pengumuman keputusan dewan juri tersebut. Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dispar Karimun Ahadian Zulseptriadi mengatakan, pengumuman pemenang festival atau lomba lampu hias Eid Mubarak 1444 H, akhir pecan depan.

Di tanah Melayu, khususnya di Kabupaten Karimun, malam-malam terakhir di bulan suci Ramadan tidak hanya dihiasi dengan suara tadarus dan lantunan takbir. Ada cahaya khas yang berpendar dari ribuan sumbu minyak tanah yang dikenal sebagai Lampu Colok atau Lampu Cangkok. Lebih dari sekadar penerang jalan, lampu colok adalah simbol peradaban, nilai historis, dan kehangatan silaturahmi yang terjaga lintas generasi.

Secara historis, tradisi ini berakar dari kearifan lokal masyarakat Melayu terdahulu. Sebelum adanya listrik, lampu colok yang terbuat dari kaleng bekas dengan sumbu minyak tanah berfungsi sebagai alat penerang jalan bagi warga yang hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah di malam-malam terakhir Ramadan (Lailatul Qadar).

Seiring berjalannya waktu, kegunaan fungsional ini bertransformasi menjadi sebuah ekspresi seni dan budaya. Masyarakat mulai menyusun lampu-lampu ini sedemikian rupa pada struktur kayu atau bambu hingga membentuk gapura, replika masjid, hingga ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memukau mata.

Tradisi Lampu Colok bukan sekadar pertunjukan estetika visual. Di balik keindahan cahayanya, terdapat nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi:

Semangat Gotong Royong: Pembuatan satu gapura raksasa yang terdiri dari ribuan lampu colok membutuhkan kerja keras kolektif. Mulai dari mencari kayu, merakit rangka, hingga menyiapkan minyak tanah dilakukan secara bersama-sama oleh warga, terutama para pemuda.

Membangun Silaturahmi: Proses pembuatan yang memakan waktu berhari-hari menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan berkomunikasi, memperkuat ikatan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah).

Identitas Budaya: Bagi masyarakat Karimun, Lampu Colok adalah penanda jati diri yang membedakan perayaan Ramadan mereka dengan daerah lain, sekaligus upaya menjaga “marwah” budaya Melayu agar tetap lestari di era modern.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Karimun telah mengangkat tradisi ini menjadi agenda tahunan melalui Festival Lampu Colok. Acara ini sukses menarik minat wisatawan mancanegara maupun domestik yang ingin merasakan suasana Ramadan yang autentik.

Menariknya, festival ini terus beradaptasi. Selain kategori lampu sumbu tradisional yang ikonik, kategori Lampu Hias berbasis listrik juga mulai diperkenalkan sebagai bentuk inovasi kreatif tanpa menghilangkan esensi dari tradisi aslinya.

Lampu colok adalah bukti nyata betapa budaya Melayu mampu menyatukan nilai-nilai religius dengan kreativitas sosial. Setiap kerlip api yang menyala di malam takbiran adalah simbol dari harapan, kerja keras, dan doa yang dipanjatkan oleh masyarakat Karimun demi kemakmuran daerah mereka.

Melestarikan Lampu Colok berarti menjaga api budaya Melayu agar tetap menyala di hati generasi mendatang. (msa)