Tak Ada Operasi Bukan Berarti Tak Berlatih, SAR Natuna Asah Kemampuan Evakuasi Korban dari Sumur

NATUNA – Tidak sedang menghadapi operasi penyelamatan bukan berarti personel Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna berhenti mengasah kemampuan.

Kesiapsiagaan justru terus dibangun melalui latihan rutin untuk memastikan setiap rescuer mampu menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk penyelamatan di ruang terbatas.

Hal itu ditunjukkan melalui latihan Confined Space Rescue (CSR) yang dilaksanakan di area latihan Kantor SAR Natuna, Selasa (23/9/2026).

Latihan tersebut melibatkan seluruh rescuer sebagai bagian dari pembinaan kemampuan dan kesiapsiagaan menghadapi situasi penyelamatan dengan tingkat risiko tinggi.

Dalam latihan tersebut, personel tidak hanya dituntut mampu mengevakuasi korban, tetapi juga memahami potensi bahaya yang dapat muncul di ruang terbatas.

Simulasi dilakukan dengan skenario penyelamatan korban dari sumur yang membutuhkan teknik khusus, ketelitian, komunikasi tim, serta pengambilan keputusan yang tepat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa dan briefing keselamatan, dilanjutkan dengan penyiapan serta pemeriksaan peralatan.

Setelah seluruh personel dan perlengkapan dinyatakan siap, latihan dilanjutkan dengan penerapan prosedur penyelamatan, evakuasi vertikal, hingga debriefing dan evaluasi.

Sejumlah peralatan khusus digunakan dalam latihan tersebut, di antaranya tripod rescue, breathing apparatus atau SCBA, full body harness, serta perangkat lowering dan lifting system.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan SAR Natuna, Abdul Rahman, mengatakan latihan tersebut merupakan agenda pembinaan mandiri yang wajib dilaksanakan secara rutin setiap pekan, termasuk ketika tidak ada operasi SAR.

“Kegiatan ini adalah pembinaan mandiri rutin yang kami laksanakan setiap minggu. Prinsip kami, rescuer tetap wajib berlatih meski tidak ada operasi SAR. Dengan latihan yang konsisten, kami ingin mewujudkan rescuer yang memiliki semangat ‘Satu Jiwa Satu Rasa’ Basarnas,” ujar Abdul Rahman.

Menurutnya, kemampuan rescuer tidak dapat hanya mengandalkan pengalaman saat berada di lapangan. Latihan secara konsisten diperlukan agar setiap personel terbiasa menghadapi kondisi yang membutuhkan keterampilan teknis, ketenangan, koordinasi, dan ketepatan dalam mengambil keputusan.

Confined Space Rescue sendiri merupakan teknik penyelamatan korban yang terjebak di ruang terbatas dan tertutup, seperti sumur, gorong-gorong, tangki maupun silo.

Kondisi tersebut memiliki tantangan tersendiri karena sirkulasi udara dapat terbatas, terdapat potensi gas berbahaya, serta akses keluar-masuk yang sempit.

Karena itu, proses penyelamatan di ruang terbatas tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Keselamatan korban harus berjalan beriringan dengan keselamatan rescuer yang melakukan evakuasi.

Melalui latihan yang dilakukan secara berkelanjutan, Kantor SAR Natuna berupaya memastikan setiap personel tetap berada dalam kondisi siap menghadapi panggilan tugas kapan pun dibutuhkan.

Bagi rescuer, kesiapsiagaan bukan hanya tentang hadir ketika musibah terjadi. Kesiapan itu dibangun jauh sebelumnya, melalui latihan, disiplin, penguasaan peralatan, dan kekompakan tim. (Rap)