Stakeholder Pariwisata: Jangan Munafik! Destinasi Seks Masih Jadi Idola Wisman ke Karimun

Karimun, Lendoot.com – Kenyamanan dan keamanan menjadi  salah satu kunci keberhasilan sektor pariwisata di sebuah daerah. Ternyata, Kabupaten Karimun termasuk salah satu daerah yang tidak nyaman dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman).

Pascadibukanya pelayaran internasional dari Johor Malaysia ke daerah ini, kunjungan Wisman terbilang semakin rendah.

Seorang sopir taksi pelabuhan yang berhubungan langsung dengan Wisman mengatakan, penyumbang terbesar kunjungan wisata asing ke Karimun itu, destinasi seks.

“Jangan munafik! Tidak bisa dipungkiri dan harus kita akui. Orang asing ke Karimun, ya carinya masih seks. Sebab, objek wisata kita belum ada yang bisa diandalkan untuk jadi daya tarik,” tegas M seorang sopir pelabuhan yang merupakan stakeholder pariwisata di Karimun.  

Ketika Lendoot.com mempaparkan, bahwa sudah ada destinasi wisata di Karimun saat ini, seperti wisata alam, wisata religi dan wisata belanja, sopir taksi berinisial M itu mengatakan, Karimun masih kalau jauh dengan daerah lain, seperti Batam, Bintan dan Tanjung Pinang.

“Orang Malaysia atau Singapura, kalau mau wisata belanja murah, bagus ke Batam. Mau wisata religi, ada Tanjung Pinang. Kalau mau wisata alam, ya ke Bintan. Yang mau ke Karimun? Ya, destinasi seks lah,” tegasnya.

Bahkan, saat ini destinasi wisata seks di Karimun sudah tidak lagi menjanjikan menarik Wisman datang lagi ke Karimun. Alasannya, sudah tidak adanya lokalisasi membuat para tamu menjadi sangat tidak nyaman.

Seorang sopir lainnya, IL mengatakan, saat ini ketika tamu minta dicarikan wanita pendamping selama di Karimun, IL mengaku bingung. Sebab, biasanya IL membawanya ke lokalisasi. “Sekarang kita carinya cewek lepas. Tinggal di Ruko-ruko, yang kita tidak tahu siapa bosnya,” jelasnya.

Kemudian, ketika si wanita penghibur itu menginap di hOel bersama tamunya, rasa was-was berkecamuk di hati IL. “Kalau nanti barang-barang tamu (Wisman, red) hilang dibawa si cewek. Kita juga yang repot,” jelasnya.

Sebelumnya, saat masih ada lokalisasi di Paya Labu dan Kapling, IL dan para sopir pelabuhan mudah membawa tamunya ke dua lokalisasi tersebut. Di sana, tamu diperkenalkan dengan wanita yang disukainya. Lalu bernegosiasi dengan si Papi atau si Mami.

“Jadi, kita aman tak perlu jaga si wanitanya. Kalau wanitanya macam-macam, bisa minta pertangungjawaban si papi atau si mami,” ungkapnya.

Kejadian yang membuat tak nyaman tamu asing ini diungkapkan sopir pelabuhan berinisial O. Ada tamunya yang mengatakan tidak mau lagi ke Karimun karena merasa tidak nyaman dan tidak aman.

Banyak wisatawan yang pekan lalu datang, kata O, jadi tak mau datang lagi ke sini. Alasannya, tidak nyaman lagi ke Karimun. Khususnya, wisatawan yang mencari hiburan malam dengan dampingan perempuan-perempuan.

“Ada wanita penghibur yang tengah malam pergi dari kamar hOel. Lalu dicari-cari si tamu, dan baru datang lagi menjelang pagi. Ini kan membuat tamu jadi kapok. Nasib baik tidak ada barang yang hilang,” jelas O yang sering mendampingi tamu dari negeri jiran berwisata ke Karimun.

Kondisi ini, kata O, patut menjadi perhatian serius Dinas Pariwisata Seni Budaya Karimun. Meski semua tak sepakat jika Karimun masih disebut sebagai destinasi wisata seks, katanya, tapi itulah faktanya.

Untuk menghilangkan kesan Karimun sebagai destinasi wisata seks tersebut, dinas terkait harus memiliki inovasi yang mumpuni untuk menarik Wisman ke daerah ini, setidaknya ada program promosi yang baik dan program peningkatan destinasi wisata yang unggul dari daerah lainnya.

“Meski saya sudah tidak terlalu percaya dengan dinas yang cuma bisa habiskan anggaran saja, tapi tetap kita berharap kesan wisata seks itu hilang. Ada tujuan wisata lain yang bisa dikembangkan. Promosinya ditingkatkan dan buatlah tamu-tamu asing yang datang ke Karimun itu berkesan,” pungkas O. (msa)