Sejarah Karimun, dari Kerajaan Sriwijaya hingga Pemerintahan Raja Ali Haji

Karimun, Lendoot. com – Sebagian masyarakat Kabupaten Karimun belum banyak yang mengetahui tentang sejarah Kabupaten Karimun yang saat ini mereka tempati.

Berikut sejarah Karimun yang dahulu kala daerah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya hingga keruntuhannya pada abad ke-13, yang ditayangkan di karimunkab.go.id.

Diceritakan dalam tayangan itu, masa Kerajaan Sriwijaya itu pengaruh Agama Budha mulai masuk. Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti di Desa Pasir Panjang. Pada masa itu disebutkan Karimun sering dilalui kapal-kapal dagang hingga pengaruh Kerajaan Malaka (Islam) mulai masuk pada 1414.

Pada 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis. Saat itu Sultan Mansyur Syah yang memerintah memberi larangan pada keturunan raja-raja untuk tinggal di Malaka.

BACA JUGA!

BACA JUGA

Kemudian Sultan Mansyur Syah mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, lalu muncullah kerajaan Indrasakti, Indrapura, Indragiri, dan Indrapuri.

Sementara itu banyak rakyat Malaka yang tinggal berpencar di pulau-pulau yang berada di kepulauan, seperti di Kepulauan Riau, termasuk Pulau Karimun.

Sejak kejatuhan Malaka dan digantikan perannya kerajaan Johor, Karimun dijadikan basis kekuatan angkatan laut saat menentang Portugis sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah I (1518-1521) hingga Sultan Ala Jala Abdul Jalil Ri’ayat Syah (1559-1591).

Kurun 1722-1784, Karimun berada dalam kekuasaan Kerajaan Riau-Lingga dan pada masa itu daerah Karimun, terutama Kundur dikenal sebagai penghasil gambir dan penghasil tambang (seperti; timah, granit, dan lain-lainnya).

Karimun berkembang menjadi daerah perdagangan serta mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Raja Ali Haji.

BACA JUGA!

Jauh sebelum ditandatanganinya Treaty of London, Kerajaan Riau-Lingga dan Kerajaan Melayu dilebur menjadi satu sehingga semakin kuat dengan wilayah kekuasaan meliputi Kepulauan Riau, daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura dan sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir.

Setelah Sultan  Riau meninggal pada 1911, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai District Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder District Thoarden untuk daerah yang agak kecil.

BACA JUGA…!

Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau-Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah karesidenan yang dibagi menjadi dua Afdelling, yaitu: Afdelling  Tanjungpinang dan Afdelling Indragiri. (**/msa)